Reklame “Viral” di Kebonpolo Jadi Pelajaran Berharga

MAGELANG, SM Network – Kejadian berdirinya reklame di titik terlarang, beberapa waktu lalu, mengundang perhatian wakil rakyat di DPRD Kota Magelang. Hal ini dinilai bisa menjadi pelajaran berharga bagi eksekutif atau pemerintah.

Anggota Komisi C DPRD Kota Magelang, HIR Jatmiko mengatakan, pemasangan reklame di persimpangan Kebonpolo Jalan A Yani Magelang yang viral di media sosial itu memunculkan keheranan di benaknya. Termasuk pertanyaan ada apa di balik pemasangan itu.

“Yang saya pertanyakan, apa ada yang berani tiba-tiba saja memasang papan iklan sebesar itu di objek vital, depan taman, dan jalan nasional,” ujarnya merespon kejadian yang sempat menjadi objek kreatif warga di dunia maya itu.

Politisi Partai Hanura itu menduga, adanya keterlibatan oknum tertentu, sehingga pemasangan reklame tersebut dimuluskan. Terlebih lagi, Satpol PP Kota Magelang baru mengeksekusi baliho itu karena keburu viral di medsos. 

“Setelah viral, Satpol PP kemudian meminta menurunkannya. Kenapa tidak saat pembangunan berlangsung dicegah saja, jika reklame itu benar-benar ilegal,” katanya.

Jatmiko menilai, ironisnya lagi karena di sepanjang Jalan A Yani, Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Magelang punya CCTV. Mestinya, pemantauan bisa dilihat dari kamera tersebut jika ada oknum yang melakukan pelanggaran peraturan perundang-undangan.

“Dulu saat kasus perusakan water barrier jalur sepeda di Jalan Yos Sudarso saja kelihatan di CCTV. Orang hanya menendang fasilitas publik bisa diketahui. Tapi ini, memasang baliho sebesar itu tidak terdeteksi. Aneh kan,” jelasnya.

Ia pun berharap adanya pengetatan izin reklame di Kota Sejuta Bunga. Termasuk sosialisasi aktif dari instansi terkait, agar kejadian yang sama tidak terulang lagi.

“Perizinan tentang reklame perlu dikaji ulang. Termasuk kajian tata lingkungan dan amdalnya. Tidak hanya semata-mata demi pendapatan asli daerah (PAD), tapi dampaknya, Kota Magelang jadi hutan reklame,” ungkapnya.

Seperti diketahui, reklame berukuran cukup besar sempat berdiri di area persimpangan Kebonpolo yang menutupi landmark Kota Magelang berupa tanggul Kali Kota. Reklame ini pun mendapat protes dari warga, termasuk dinas terkait, seperti DLH dan Satpol PP.

Protes disampaikan secara kreatif dengan menampilkan gambar, foto, atau tulisan yang terkesan lucu. Akhirnya reklame yang juga menutupi area taman itu dibongkar oleh sang pemilik pada Sabtu (20/2) malam. 

Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Kota Magelang pun menyayangkan berdirinya reklame tersebut yang dinilai merusak estetika kota. Selain ukuran yang terlalu besar, penempatan juga di area terlarang untuk pendirian reklame atau baliho.

“Dari kacamata pengusaha pemasangan reklame di lokasi itu memang strategis. Tapi, tidak juga kita melanggar aturan. Baliho yang terpasang itu sangat tidak etis dan dari aspek estetika tidak ada,” ungkap Ketua Apindo Kota Magelang, Eddy Sutrisno.

Tinggalkan Balasan