Refleksi Hari Jadi Kebumen pada Momen Pilkada Tak Perlu Euforia

KEBUMEN, SM Network – Mantan Ketua Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Kebumen, Ma’rifun Arif menekankan peringatan Hari Jadi Kebumen Ke-391 pada momen Pilkada 2020 bisa menghasilkan kesadaran bersama untuk kembali ke jati diri. Yakni sebagai masyarakat peduli sejarah yang memiliki jati diri kebersamaan membangun.

Sehingga, refleksi peringatan hari jadi yang jatuh 21 Agustus itu tak perlu euforia. Sekalipun, pada gelaran Pilbup nanti akan mengarah calon tunggal, yang anggapannya gampang menang, ketika berhadapan dengan kotak kosong atau kolom tanpa gambar pada kertas suara. “Saat inilah kesadaran bersama musti dilakukan untuk kembali ke jati diri, bukan yang lain,” tandas Ma’rifun.

Ia lantas menjelaskan arti kebersamaan sebagai sebuah ikatan yang terbentuk karena rasa kekeluargaan / persaudaraan. Ikatan tersebut, lebih dari sekedar bekerja sama atau hubungan profesional biasa. Di samping itu lebih mengutamakan kepentingan bersama dari pada kepentingan pribadi atau kelompok.

“Jadi, kebersamaan membangun itu bukan berpikir pragmatis. Apalagi kalau hanya dimaknai bagi-bagi kue (proyek-Red),” katanya. Ma’rifun juga menyampaikan alasan karena menghadapi Covid-19, sehingga tak perlu euforia. Dan hingga pelaksanan Pilbup 9 Desember 2020 masih diterapkan protokol kesehatan penanganan korona.

Namun jika belum menjadi calon resmi di KPU sudah ada bagi-bagi proyek, maka fokus penanganan Covid-19 akan terabaikan. Ma’rifun kemudian mengingatkan adanya operasi tangkap tangan (OTT) KPK di Kebumen gegara bagi-bagi proyek sebelum pelantikan calon bupati – wakil bupati terpilih yang mengikuti Pilbup 2015 silam. “Lha kalau sekarang belum juga jadi calon sudah seperti itu, lalu apa jadinya Kebumen,” ungkapnya.

Politisi Partai Gerindra itu pun menyimpulkan adanya pergumulan bersama kali ini lebih parah dibandingkan proses pencalonan sebelumnya yang mengusung tagline “No Korupsi No Upeti”. Ia juga masih menajamkan analisa mengenai tersumbatnya demokrasi dalam menghadapi Pilbup 2020 di Kebumen yang terkesan ada barter politik atau deal-deal dari elite tertentu.

Lebih lanjut, proses yang tampak terkondisikan secara sistematis itu bak akan melahirkan ‘anak haram’ bernama calon tunggal. Ma’rifun yang Mantan Anggota DPRD Kebumen periode 2014 – 2019 mengakui, dalam konteks Pilkada, calon tunggal secara regulasi memang diperbolehkan dan sah. Begitu pula konsekuensi adanya kotak kosong juga boleh dipilih.

“Akan tetapi dari substansi pemilihan dan pendidikan politik kebangsaan sangat tidak relevan dengan kondisi Kebumen,” ucapnya. Apalagi ketika dikaitkan dengan Hari Jadi Kebumen yang lekat dengan pemimpin pertama daerah ini, Badranala. Tokoh legenda tersebut tercatat tinta emas dengan menjadikan daerah kala belum bernama Kebumen sebagai lumbung pangan dan gudangnya pejuang.

Tak elak lagi, jika momen Pilkada kali ini sudah terjadi euforia bagi-bagi proyek, maka tindakan tersebut telah mencoreng dan melenceng dari torehan Badranala, yang pusaranya berada di Desa Karangkembang, Kecamatan Alian, Kebumen, asal tempat tinggal Ma’rifun. Di samping itu menyalahi arti kebersamaan dan mengoyak jiwa sanubari masyarakat. Terlebih apabila pergumulan bersama itu sampai melakukan korupsi berjamaah.


Arif Widodo / K5

5 Komentar

  1. I am regular visitor, how are you everybody? This article posted at this web site is in fact pleasant.

  2. I used to be able to find good info from your blog posts.

  3. 517375 936920Some truly exceptional articles on this internet site , regards for contribution. 464902

  4. 194443 410222articulo agregado a favoritos, lo imprimir cuando llegue a la oficina. 924807

Tinggalkan Balasan