SM/Asef F Amani - POHON GOWOK: Manager Operasional PDOW TKL Kota Magelang, Bowo menunjukkan pohon buah gowok yang menjadi salah satu koleksi tanaman langka di TKL, ya g buahnya kerap diburu warga untuk dikonsumsi.

MAGELANG, SM Network – Taman Kyai Langgeng (TKL) masih menjadi objek wisata andalan di Kota Magelang. Perusahaan Daerah Objek Wisata (PDOW) milik Pemerintah Kota Magelang ini tidak melulu seputar wahana permainan anak-anak dan mini waterboom saja, tapi juga kaya akan koleksi tanaman langka.

Lebih dari 128 jenis tanaman/pohon langka tertanam dan terpelihara dengan baik di TKL. Tanaman ini tak hanya sebagai peneduh atau perindang kawasan semata, namun bisa menjadi objek penelitian yang menarik.

“Kami berkomitmen memelihara ratusan jenis tanaman langka ini. Fungsinya beragam dari sekadar tanaman/pohon peneduh sampai dimanfaatkan buah atau bunganya,” ujar Direktur Utama PDOW TKL, Edi Susanto di kantornya, Rabu (29/4).

Dia menuturkan, bukan tanpa alasan tanaman langka ini ditanam di TKL. Sebelum tahun 1981, area TKL ini merupakan lahan kritis berupa pekuburan, persawahan, dan kebun yang kurang produktif. Lalu tahun 1981 diubah menjadi taman bunga dengan luas sekitar 27,5 hektar. “Wali Kota Magelang saat itu, Bagus Panuntun ingin penghijauan di lahan kritis ini dengan tanaman/pohon langka. Lalu, pada 15 September 1987 resmi menjadi objek wisata taman yang diresmikan Gubernur Jateng, H Ismail” katanya.

Disebutkannya, sejumlah tanaman langka yang menjadi kebanggaan antara lain apel bludru, mentaok, mathoa, mundu, majiko, kunto bimo, kayu item, gowok, dammar, nogosari, dan lainnya. Adapun tanaman yang cukup asing di telinga, seperti ampupu, biola cantik, dewa daru, kecapi, kesambi, kupu-kupu, lobe-lobe, nam nam, nyamplung, pohon body, padmonaba, wali songo, dan sebagainya.

“Yang menjadi ikon sebenarnya belum ada, tapi seringkali kita keluar daerah membawa kantil putih dan diberikan kepada daerah lain sebagai souvenir. Kita punya cukup banyak kantil putih, sehingga bisa untuk oleh-oleh,” jelasnya.

Direktur Umum PDOW TKL, Slamet Maryono menambahkan, pihaknya juga senantiasa berusaha membudidayakannya. Terutama tanaman yang mudah dikembangkan, sehingga terjaga kelestariannya.

“Yang mudah dibudidayakan, seperti mentaok, kantil, dan apel bludru. Yang susah dibudidayakan seperti kayu majiko dari Bali. Kita hanya punya satu. Pohon ini bagi masyarakat Bali memiliki kasta yang tinggi, yang biasanya dipakai untuk mustaka ketika membuat rumah,” paparnya.

Banyaknya tanaman langka di taman yang sarat prestasi tingkat nasional ini banyak mengundang minat peneliti dan akademisi untuk pendataan dan penelitian. Tak jarang pula mahasiswa jurusan biologi tanaman dan kehutanan ikut mendata dan meneliti tanaman-tanaman ini.

“Tanaman langka kita juga sering diminta orang luar daerah atau wisatawan untuk ditanam di daerahnya. Pernah kami beri empat pohon apel bludru ke wisatawan asal Malaysia untuk ditanam di sana,” ungkapnya.

Slamet mengaku, di tengah pandemi Covid-19 ini pihaknya menutup total area wisata dari kunjungan wisatawan. Namun, untuk para pekerja tetap masuk untuk melakukan pekerjaannya sehari-hari dengan jam kerja dikurangi.

“Kita tutup sampai ada pengumuman resmi dari pemerintah. Pekerja tetap masuk, karena waktu ini kita gunakan untuk melakukan perawatan dan perbaikan, sehingga ketika dibuka lagi nanti dapat tampil lebih menarik,” imbuhnya.


Asef Amani

2 KOMENTAR