Ratusan Desa/Kelurahan Berpotensi Terjadi Bencana

PURWOREJO, SM Network – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Purworejo meminta warga yang berada di zona rawan bencana untuk selalu waspada, terutama saat terjadi hujan dalam intensitas yang tinggi. Di Kabupaten Purworejo, setidaknya 328 dari 496 desa/kelurahan memiliki kerawanan atau berpotensi terjadi bencana, baik longsor maupun banjir.

Kepala Bidang Kesiapsiagaan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Purworejo, Edy Purwanto, mengungkapkan desa/kelurahan yang memiliki potensi terjadi bencana tersebut berada di 12 kecamatan. Bahkan ada kecamatan yang memiliki potensi tinggi terkena longsor maupun banjir.

“Kecamatan yang rawan longsor ada 9 kecamatan, kalau banjir ada 5 kecamatan. Kerawanan longsor di kawasan yang memiliki perbukitan, sedangkan kerawanan banjir di kawasan yang relatif datar,” ungkapnya, kemarin.

Edy menyebut, kecamatan yang memiliki potensi longsor tinggi antara lain Pituruh, Kemiri, Gebang, Bener, Loano, Kaligesing, Bagelen, Purworejo, dan Bruno. Sedangkan kecamatan yang memiliki potensi meliputi Ngombol, Grabag, Butuh, Bagelen, dan Purwodadi.

“Kaligesing dan Bruno, semua desa masuk rawan longsor. Kalau di kecamatan lain bervariasi dari yang hanya sepertiga sampai tigaperempatnya,” katanya.

Meski di wilayah pegunungan memiliki potensi longsor yang tinggi, namun menurut Edy, juga tidak menutup kemungkinan terjadi bencana banjir.  Sebab, ada beberapa kejadian terjadinya banjir bandang di kawasan perbukitan. Oleh karena itu, semua harus meningkatkan kewaspadaan. “Karena potensi (bencana) sebenarnya sangat beragam,” tuturnya.

Edy menambahkan, menghadapi kerawanan terjadinya bencana tersebut, pihaknya telah melakukan berbagai kesiapan untuk melakukan penanganan. Antara lain dilakukannya beberapa pelatihan bagi warga di desa-desa rawan bencana maupun bagi para relawan. Selain itu, sosialisasi untuk pencegahan atau penanganan bencana juga telah dilakukan.

Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Purworejo juga telah menyiapkan logistik untuk penanganan. Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik, Khusairi, mengungkapkan bahwa stok logistik 2019 juga masih ada, selain ada bantuan logistik dari Pemprov Jawa Tengah senilai Rp 74 juta di awal tahun ini.

Bantuan itu  diwujudkan dalam bentuk barang seperti beras, kecap, teh, gula, kopi, serta minuman ringan. Di samping itu, kebutuhan untuk pengungsi seperti alas tidur serta terpal dan karung untuk penanganan tanah longsor juga masih ada.

“Kami baru akan melakukan pengadaan lagi pada bulan Maret 2020, karena stok 2019 masih ada. Kami menghabiskan stok yang lama dulu karena masa edarnya sudah hampir habis,” katanya.

Khusairi menambahkan, ketika terjadi bencana, petugas saat turun ke lapangan akan membawa logistik jika dibutuhkan. Oleh karena itu, warga atau perangkat desa diharapkan sesegera mungkin berkomunikasi dengan BPBD jika terjadi bencana.


Panuju Triangga

Tinggalkan Balasan