Rapid Test Reaktif Diisolasi di Hutan Wanagama

YOGYAKARTA, SM Network – Warga yang mengikuti rapid test dan dinyatakan reaktif langsung dibawa ke Hutan Wanagama milik UGM. Di hutan pendidikan itu ada wisma yang sudah siap menerima pasien dengan gejala Covid-19. Rektor UGM, Prof Ir Panut Mulyono DEng MEng IPU ASEAN Eng dan Wakil Bupati Gunungkidul Dr Immawan Wahyudi MH sepakat menandatangani kerja sama pemakaian hutan di ruang Kesambi, Wanagama. Tampak Sekretaris Daerah Gunungkidul, Ir Drajad Ruswandono MT dan Dekan Fakultas Kehutanan UGM, Dr Budiadi SHut MAgrSC yang juga menandatangani kerja sama penyediaan tempat karantina warga rapid test reactive Covid-19.

Rumah peneliti Wanagama menjadi tempat isolasi mandiri menurut Budiadi untuk mendukung pemenuhan kebutuhan ruang isolasi bagi pasien reaktif di Gunungkidul. Tempat di RSUD Gunungkidul akan diprioritaskan untuk pasien positif Covid-19 yang membutuhkan perawatan intensif. Selain itu, penggunaan hutan juga sebagai langkah preventif sekaligus rehabilitatif dalam proses perawatan orang yang dinyatakan reaktif setelah melalui uji PCR dalam tes cepat.

”Saat ini Pemkab Gunungkidul mengintensifkan rapid test dan bagi yang reaktif nantinya dilakukan pengambilan sampel swab. Selama menunggu hasil uji swab, mereka dapat diisolasi agar mencegah peluang penularan. Karena itu, kami menawarkan wisma Wanagama menjadi tempat isolasi mandiri,” ujarnya.

Modal Sosial


Budiadi menjelaskan sebanyak 8 paviliun telah disiapkan untuk ruang isolasi mandiri. Delapan paviliun tersebut terdiri ataa 7 paviliun untuk ruang isolasi dan 1 paviliun sebagai ruang medis atau perawatan. Tiap paviliun dilengkapi dengan fasilitas 4 toilet, 2 dapur, 2 kamar tidur, serta 1 ruang bersama. Total ada 46 tempat tidur untuk pasien isolasi dan 4 tempat tidur bagi tenaga medis.

Rektor UGM, Prof Panut Mulyono menambahkan bantuan tempat ini menunjukkan modal sosial masyarakat tinggi. Modal sosial tersebut yakni keguyuban, solidaritas, serta rasa senasib sepenanggungan karena berada di wilayah yang sama. Hal ini terbukti dari penanganan bencana di DIY, seperti gempa tahun 2006 dan meletusnya Gunung Merapi tahun 2011. Pada kedua bencana tersebut pemulihannya lebih cepat jika dibandingkan daerah dengan bencana serupa di Indonesia.

”Saya harap para pasien yang menempati salah satu wisma di Wanagama dapat lebih cepat proses penyembuhannya. Suasana tenang serta pemandangan hutan di sini dapat dijadikan terapi yang disebut sebagai forest healing. Tempat ini akan tersedia hingga pandemi usai,” tandas Panut.


Agung PW

Tinggalkan Balasan