Puluhan Guru TK Antusias Ikuti Workshop Wayang

MAGELANG, SM Network – Puluhan guru taman kanak-kanak di Kota Magelang antusias mengikuti workshop media wayang kulit sebagai bahan pembelajaran pendidikan karakter. Sosialisasi diisi oleh akademisi dari Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta.

Kepala Disdikbud Kota Magelang, Agus Sujito mengatakan, workshop bertajuk “Seni Pertunjukan Wayang Digitalisasi untuk Pendidikan Karakter Anak Usia Dini” ini diikuti 68 guru TK se-Kota Magelang. Mereka serius mengikuti workshop yang berlangsung di aula Disdikbud, beberapa waktu lalu. 

Dijelaskannya, pemilihan media wayang kulit dinilai tepat sebagai pembentukan karakter. Selain itu, adanya penanaman nilai positif yang bisa diambil dari tokoh pewayangan.

“Wayang dipilih agar ke depan bisa diaplikasikan guru-guru TK kepada anak didik mereka, untuk menanamkan nilai, dengan contoh konkret dan perilaku yang mencerminkan nilai positif tokoh wayang,” ujarnya di sela workshop.

Seluruh guru TK, kata Agus, diharapkan mampu mengetahui masing-masing dari karakter pewayangan. Terlebih lagi, membuat seni wayang kulit sekarang ini bukanlah hal yang sulit.

“Kita bisa pakai wayang kertas atau metode lain, yang penting karakter atau tokoh perwayangan ini bisa sampai di benak anak-anak didik, terutama usia dini,” katanya.

Menurutnya, dengan mengenalkan wayang kepada peserta didik usia dini, para guru juga telah berperan melestarikan kebudayaan lokal. Sekaligus, media wayang kulit juga dianggap menarik sehingga menghindari siswa kejenuhan.

“Cerita wayang itu menarik. Ini akan menggugah siswa untuk menikmati jalan ceritanya, mengenali tokoh-tokoh positifnya, kemudian menerapkan dalam kehidupan sehari-hari,” jelasnya.

Agus menambahkan, dalam setiap pagelaran, dalang bisa menyisipkan nilai-nilai dan muatan pendidikan moral melalui lakon yang dimainkan. Materi ini akan disesuaikan dengan tingkat pendidikan siswa. Harapannya, seni bisa menjadi filter terhadap perkembangan dampak era globalisasi.

“Anak usia dini merupakan ahli waris kekayaan budaya yang saat ini terus berusaha dilestarikan. Kami ingin membangun kecintaan siswa terhadap kebudayaan lokal melalui proses pendidikan di TK,” terangnya.

Ia mencontohkan, karakter dalam cerita pewayangan asli Indonesia yang terkenal adalah Punakawan yang terdiri atas 4 tokoh, yakni Semar, Gareng, Petruk, dan Bagong.
“Dari Semar misalnya, bisa diambil pelajaran bahwa seseorang harus tetap rendah hati, jujur, dan bijaksana. Rasa peduli Semar terhadap yang diabdinya sangatlah tinggi,” ungkapnya.

Tinggalkan Balasan