Produktivitas Pertanian Indonesia Belum Maksimal Penuhi Kebutuhan Pangan

SM Network – Produktivitas dan produksi pertanian Indonesia masih belum maksimal untuk memenuhi kebutuhan pangan domestik. Impor yang Indonesia dipilih menjadi salah satu sumber untuk mengisi ketersediaan pangan di pasar tidak lepas dari belum mampunya produksi pangan domestik untuk memenuhi kebutuhan di dalam negeri.

Data FAO menunjukkan Indonesia menghasilkan sekitar 5,1 ton beras per hektare di tahun 2018, lebih tinggi dibanding Malaysia di 4,1 ton per hektar dan Thailand 3,1 ton per hektare. Namun Indonesia masih kalah produktif dengan Vietnam yang bisa menghasilkan 5,8 ton per hektare.

Biaya produksi beras Indonesia pun 2,5 kali lebih mahal dibanding Vietnam. Kebijakan swasembada yang diharapkan bisa melindungi dan mendorong produksi domestic belum menunjukkan hasil. Produksi domestik, baik nasional maupun produksi pangan lokal berbasis komunitas, harus dibenahi dengan serius.

Head of Research Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) Felippa Ann Amanta menuturkan, pembenahan sistem perdagangan pangan juga dapat mendukung ekspor pertanian Indonesia. BPS mencatat sepanjang Januari hingga April 2020, ekspor pertanian Indonesia meningkat sebesar 15,15 persen dan terjadi peningkatan sebesar 12,66 persen (yoy). Hubungan perdagangan yang diperkuat juga akan menguntungkan perekonomian Indonesia melalui sektor pertanian.

“Selain mengenai kebijakan yang mendukung tercapainya ketahanan pangan, urgensi untuk mewujudkan infrastruktur distribusi pangan juga semakin meningkat selama pandemi Covid-19 yang mendisrupsi sektor logistik. Seperti yang pernah dikutip oleh Profesor Hal Hill (2014), lebih murah mengirim jeruk dari China ke Jakarta daripada dari Medan dan Pontianak,” tutur Felippa.

Bahkan, menurut studi Bank Dunia, jarak suatu daerah dapat menjelaskan 70 persen dari perbedaan harga pangan. Ini menunjukkan situasi logistik Indonesia masih sangat kurang, apalagi di Indonesia Timur. Selama Covid-19, kesusahan logistik juga yang mengakibatkan banyak provinsi defisit pangan, padahal stok pangan secara nasional masih surplus.

“Kenormalan baru di sistem pangan Indonesia tidak cukup hanya dengan mengatur protokol kesehatan untuk kembali ke Business-As-Usual. Berangkat dari krisis ini, Indonesia harus membenahi sistem pangan untuk meningkatkan ketahanan pangan yang resilien baik dalam kondisi normal maupun dalam krisis,” kata dia.


SM Network

Tinggalkan Balasan