Pondok Pesantren Pencetak Penghafal Al-Quran Yang Handal

WONOSOBO, SM Network – Pondok Pesantren Tahfidzul Qur’an (PPTQ) Al-Ash’ariyyah yang terletak di Kelurahan Kalibeber, Kecamatan Mojotengah merupakan salah satu Pondok Pesantren tertua yang ada di Kabupaten Wonosobo. Dengan mengkolaborasikan antara sistem Kholafiyyah (Modern) serta sistem Salafiyyah (Tradisional), PPTQ Al-Ash’ariyyah kini menjadi Pondok Pesantren rujukan dengan jumlah santri mencapai 5000 lebih.

Pesantren tersebut didirikan oleh KH Muntaha Al-Hafidz yang merupakan putra ketiga dari pasangan KH Asy’ari dan Ibu Nyai Hj Safinah. Kecintaan dan dedikasi ulama yang satu ini terhadap Alquran tak lagi diragukan. KH Muntaha adalah tokoh yang berhasil mencetak kader-kader penghafal Alquran yang andal.

Bahkan, cita-cita besarnya untuk mengader ulama penghafal, penafsir, dan pengamal Alquran, benar-benar ia lakukan dengan penuh keseriusan. Ini setidaknya terlihat dari dua lembaga yang ia dirikan, baik di tingkat formal maupun nonformal. Di tingkat nonformal, ia memimpin langsung Pesantren Al-Asyariyah Kalibeber, Wonosobo, Jawa Tengah, setelah ayahandanya meninggal pada 1945. Di jenjang formal, ia mendirikan Institut Ilmu Alquran (IIQ), yang kini bertranformasi menjadi sebuah Universitas Sains Alquran (UNSIQ).

Lahir dalam keluarga Pesantren, KH. Muntaha banyak memperoleh didikan berharga dari Ayah dan Ibundanya seperti membaca Alquran dan ilmu-ilmu ke-Islaman. Kedua orangtuanya memang dikenal sangat telaten dan sabar dalam mendidikan putra-putrinya. Selain dari kedua orangtuanya, KH. Muntaha juga menimba banyak ilmu dari sejumlah ulama dan kyai dari berbagai pesantren di tanah air. Saat masih belia, beliau berangkat menuntut ilmu ke Pesantren Kaliwungu, Pesantren Krapyak Yogyakarta, Pesantren Krapyak dan Pesantren Termas. Dia menempuh perjalanan dengan berjalan kaki. Melakukan riyadhah demi mencari ilmu semacam itu dilakukannya dengan niatan ikhlas demi memperoleh keberkahan ilmu.

Sepeninggal KH Muntaha pada 2004 silam, tonggak kepemimpinan PPTQ Al-Ash’ariyyah telah bergulir ke beberapa tokoh yang juga sangat alim. Diantaranya adalah, KH. Mustahal Asy’ari bin KH. Asy’ari yang merupakan adik dari KH Muntaha, KH. Achmad Faqih Muntaha yang merupakan putra sulung KH Muntaha dan Abuya Khariullah Al Mujtaba. PPTQ Al-Asy’ariyyah menerapkan pola pemisahan asrama yang disesuaikan dengan jenjang kelas dalam pendidikan. Hal tersebut dilakukan guna memberikan pendidikan yang efektif sesuai dengan jenjang santri.

Sedikitnya, terdapat 10 asrama yang meliputi blok Tahfidz, Mahasiswa, SMA dan SMP yang dibagi setiap kelas pendidikan.
Selain itu juga terdapat blok Salafy khusus bagi santri yang mendalami kitab kuning dan tidak menjalani pendidikan formal. Blok itu terdiri dari santri Putra dan Putri dengan masing-masing satu asrama. PPTQ Al-Asy’ariyyah juga menyediakan blok khusus pekerja yang ingin belajar agama lebih dalam meski tengah disibukkan dengan pekerjaan.

Semakin tergerusnya moral anak muda di era modern seperti ini, PPTQ Al-Asy’ariyyah berusaha untuk menyelesaikannya dengan mengembalikan persoalan itu pada kontek yang asli melaluii kajian kitab-kitab Salafy (Kitab Kuning) yang muatan Islamnya sangat dalam sehingga out put yang dihasilkan benar-benar menguasai masalah-masalah keagamaan.


Adib Annas M

Tinggalkan Balasan