SM/Dok - PENAMPAKAN : Penampakan pocong di Desa Pogung Jurutengah Kecamatan Bayan Kabupaten Purworejo, Senin (30/3)

Cerita ini berawal dari para pemuda yang sedang berkumpul menikmati malam bersama. Saat itu kondisinya cukup gelap. Ditengah canda gurau mereka, tiba-tiba terlihat penampakan sosok berpakaian putih, berjalan melompat-lompat, “pocong”.

Penampakan hantu pocong itu terjadi pada hari Senin (30/3), di Desa Pogung Jurutengah, Kecamatan Bayan, Kabupaten Purworejo. Tempat dimana Kekaisaran Keraton Agung Sejagad berdiri, dan sempat menghebohkan masyarakat di seluruh penjuru nusantara. Uniknya, pocong berpenampakan seram itu tidak sendirian.

Ia ditemani sang Kepala Desa, Slamet Purwadi. Anehnya, Slamet tidak takut dengan pocong disampingnya. Sontak warga sekitar kaget, kepala desa yang dulu tergolong penakut, saat ini berteman dengan hantu. Selidik punya selidik, ternyata benar pocong itu adalah teman Slamet sang kepala desa. Pocong tersebut merupakan hantu jadi-jadian. Sosok hantu ini sengaja dibuat untuk menakut-nakuti warga yang masih nekat berkerumun, meski sudah ada himbauan pembatasan sosial.

“Pada waktu itu saya baru saja menerima telpon dari warga di RW 03, ada sekelompok pemuda masih nongkrong di Pos Ronda. Karena itulah adegan Hantu Pocong kami buat agar mereka takut dan pulang ke rumah,” kata Slamet menjelaskan asal-usul pocong tersebut.

Mendengar kabar tersebut, Slamet bersama pemuda karang taruna lantas melakukan persiapan. Sebagai Pemeran Hantu Pocong Palsu diperagakan oleh Gembus, salah satu pemuda karang taruna. Ia berdandan layaknya pocong sungguhan, lengkap dengan kain kafan dan makeup hitam ala hantu.

Setelah itu, kata Slamet, mendatangi sekelompok warga yang berkerumun. Alhasil, saat Kades Slamet memberikan teguran dan penjelasan soal himbauan agar warga tetap di rumah, mendadak dari arah belakang Pos Ronda muncul Hantu Pocong. Hantu Pocong palsu yang diperagakan oleh Gembus, memperagakannya layak seperti Hantu Pocong sungguhan. Dia sambil melompat-lompat melintas di depan kerumunan pemuda dan Pak Kades.

“Pocong….!!! Para penuda lari kocar kacir ketalutan,” teriak Para Pemuda. Slamet menjelaskan, kreatifitas ini dilakukan untuk mencegah kerumunan warga dan mencegah penyebaran virus korona. Khusus bagi perantau yang mudik, juga dihimbau untuk mengisolasi diri selama empat belas hari, untuk memastikan dirinya terbebas dari infeksi Covid-19.

“Pocong ini sebagai pengingat, jika tidak patuh anjuran pemerintah, paling parah bisa menjadi pocong (meninggal dunia akibat Covid-19),” katanya. Lucunya Gembus memerankan Hantu Pocong dengan memakai mukena calon istrinya. Dan, Ia juga mengaku takut memerankan hantu pocong, mengingat kostum tersebut mengingatkanya dengan kematian, yang pasti akan dialami semua orang.

“Ini mukena sebenarnya untuk mas kawin saya. Tapi karena Kantor Urusan Agama (KUA) sedang menutup pelayanan nikah, sehingga saya pakai dulu saja lah. Idep-idep untuk membantu Pemerintah,” kelakarnya. “Saya cemas sebetulnya memerankan sebagai Hantu Pocong. Karena saya sendiri takut sekali dengan yang namanya Hantu Pocong,” ujarnya.

Namun demikian, Gembus mengaku senang lantaran peranya sebagai pocong membawa manfaat bagi warga. Pocong yang mengingatkan kepada kematian itu digunakan untuk mensosialisasikan bahayanya jika masyarakat tidak mematuhi anjuran pemerintah. “Kalau tidak mau nurut (social distancing) ya nasibnya bisa jadi pocong,” katanya.


Heru Prayogo/Kim

6 KOMENTAR