Pesona Candi Tak Lekang Waktu

Jawa Tengah dan DIY ibarat surga bagi para penikmat sejarah candi. Gugusan candi membentang di sepanjang jalur Wonosobo-Temanggung-Magelang-Sleman. Masing-masing menyimpan ceritanya sendiri. Pesona keanggunan bangunan peninggalan nenek moyang itu menjelma menjadi magnet pariwisata di masa kini. Beberapa terkenal hingga manca negara. Sebut saja Candi Borobudur, dan Prambanan.
Candi-candi itu merupakan saksi bisu kemegahan budaya Indonesia yang terbangun sejak ribuan tahun silam.

Menapak sejarah masa lalu, Kepala Unit Penyelamatan dan Pengembangan Pemanfataan Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Yogyakarta Muhammad Taufik menuturkan, kala itu ada dua dinasti yang berkuasa di daerah yang kini disebut Jawa Tengah. Dua dinasti itu adalah Sanjaya dengan corak agama Hindu, dan Syailendra yang bercorak Budha. Peninggalan yang ditemukan, salah satunya adalah kompleks percandian Dieng. “Kompleks Candi Dieng adalah yang tertua. Dilihat dari aspek tipe bangunan, diperkirakan berasal dari abad 7 sampai awal abad 8 Masehi,” ungkapnya.

Setelah dari Wonosobo, “perjalanan” merunut histori candi turun ke wilayah Temanggung. Pada tahun 2017, di kabupaten berslogan Bersenyum itu ditemukan situs Liyangan. Dari penelitian Balai Arkeologi, situs Liyangan diduga peninggalan abad 2-11 Masehi. Namun hal itu masih sebatas perkiraan lantaran belum ada bukti tertulis. Gugusan candi lainnya adalah kompleks Gedong Songo yang terletak di kaki Gunung Ungaran. Usianya diperkirakan lebih muda dari Candi Dieng yakni sekitar abad 9.

Kemudian, ada pula kompleks candi Sawangan di Magelang. Di dalamnya terdapat Candi Asu, Candi Bubrah, dan Candi Pendem. Tidak berjarak terlalu jauh, terdapat mahakarya Candi Borobudur peninggalan dinasti Syailendra. Meski ditinggalkan oleh kerajaan yang menganut keyakinan agama Budha, di sekeliling Borobudur ada peninggalan candi-candi ukuran kecil bercorak Hindu, dan terbuat dari batu bata. Diantaranya Candi Prongsongan, Dipan, Planden, dan Bowongan.

“Semua itu adalah candi-candi Hindu tapi berada di kompleks orang Budha. Hal ini menggambarkan toleransi budaya dan agama yang sangat besar pada masa itu,” kata Taufik. Sebelum melangkah masuk ke DIY, di daerah Salaman Magelang terdapat kompleks Candi Gunungwukir dengan peninggalan prasasti tertua yakni Canggal. Memasuki Kabupaten Sleman, DIY, akulturasi budaya Budha-Hindu terasa semakin kental. Di daerah ini terdapat banyak candi seperti Prambanan, Sewu, Kalasan, Plaosan, dan Ratu Boko. Masih banyak lagi situs di Sleman hingga dikenal dengan julukan kota seribu candi.

“Yang kelihatan sekali percampuran antara Hindu-Budha adalah Candi Plaosan. Di Plaosan ada dua candi induk, dan perwara,” ucapnya.
Konon, dua bangunan induk itu adalah hadiah pernikahan Pramodhawardani dan Rakai Pikatan. Sedangkan bagian candi perwara adalan ungkapan rasa terima kasih dari rakyat yang beragama Hindu maupun Budha.

Setelahnya, tidak lagi ditemukan candi besar. Hanya candi berukuran kecil seperti Kedulan, Sambisari, dan yang paling akhir di Kalijeruk. Namun di masa pandemi Covid-19 ini, wisatawan harus menahan diri untuk berkunjung ke objek candi. Untuk mencegah penularan virus yang berasal dari Wuhan, China itu, BPCB DIY melakukan penutupan sementara 10 cagar budaya candi yakni Situs Ratu Boko, Prambanan, Banyunibo, Sambisari, Kalasan, Kedulan, Gebang, Barong, Sari, dan Ijo. Kebijakan terakhir, penutupan dilakukan sampai dengan tanggal 29 Mei 2020.

“Masa penutupan ini kami manfaatkan untuk membersihkan candi dan situs secara rutin dan menyeluruh,” kata Kepala Seksi Perlindungan, Pengembangan, dan Pemanfaatan BPCB DIY Wiwit Kasiyati. Salah satu cara perawatannya adalah dengan menyemprotkan disinfektan. Cairan disinfektan yang dipakai dijamin aman dan tidak merusak batuan candi karena sudah melalui uji lab. Kandungan bahannya terdiri dari alkohol 70 persen, gliserol, aquades, dan H202 atau senyawa hidrogen peroksida.


Amelia Hapsari

Tinggalkan Balasan