USIA DINI: Mahasiswa UNY mengenalkan boneka sebagai media pembelajaran seks usia dini. Media ini digunakan untuk anak-anak usia lima dan enam tahun.(Foto: Suara Merdeka/dok- )

YOGYAKARTA, SM Network – Pendidikan seks merupakan upaya pengajaran, penyadaran, dan penerangan tentang masalah-masalah seksual. Pendidikan ini juga perlu diberikan pada anak sebagai usaha menjaga anak terbebas dari kebiasaan yang tidak normatif serta menutup segala kemungkinan ke arah hubungan seksual terlarang.

Beberapa mahasiswa Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) berusaha mengenalkan pendidikan seks pada anak sejak dini. Mereka memandang salah satu faktor yang mempengaruhi tingginya kasus kekerasan seksual pada anak yaitu kemudahan mengakses konten pornografi. Selain itu, kurangnya pengetahuan orang tua tentang penyampaian pendidikan seks kepada anak karena pengenalan pendidikan seks untuk anak masih dianggap tabu dan tidak aplikatif.

”Banyak orang tua yang belum memberikan pendidikan seks yang benar kepada anak. Meskipun anak sudah memperoleh pendidikan seks secara sederhana di sekolah, orang tua tetap harus memberikan pengawasan dan pengetahuan tentang pendidikan seks secara khusus,” tutur Ida Sekar Maulina daro Prodi PGSD UNY.

Ia bersama teman-temannya, Alyoriek Rahmadania, Riana Rahmaniya dan Taat Tiasah Muhlisoh membantu orang tua atau guru dalam pengenalan pendidikan seks untuk anak usia dini. Mereka menggagas media pembelajaran pengenalan pendidikan seks berdasarkan karakteristik anak usia dini yang lebih tertarik mendengarkan cerita dibandingkan nasihat atau wejangan yang kompleks. Media tersebut dinamakan Dongeng Boneka Tangan disingkat Debat.

Banyak Karakter

Menurut Ida media pembelajaran Debat terdiri atas dongeng dan boneka. Boneka berbentuk karakter manusia dengan full body yang nantinya akan ada penanda bagian-bagian yang bisa disentuh dan tidak di sentuh dengan simbol warna di bagian boneka.

Ada tiga penokohan yang menceritakan keseharian anak yang berkaitan dengan pengenalan pendidikan seks. Boneka sebagai benda konkret yang dekat dengan anak, sehingga anak dapat bereksplorasi sendiri yang menganggap bagian dari boneka tersebut seperti bagian tubuhnya yang perlu dijaga dan diperhatikan.

”Boneka tangan yang digunakan terdiri atas karakter ibu, anak laki-laki, dan perempuan yang memiliki tinggi 35 cm berbahan kain flanel yang diisi dakron. Boneka ibu menggunakan perpaduan warna merah muda dan merah sedangkan untuk anak laki-laki dan anak perempuan menggunakan perpaduan warna hijau dan kuning,” papar Riana.

Cerita yang digunakan mengambil situasi dalam keluarga dengan karakter kakak dan adik berusia enam dan lima tahun, tahun menyesuaikan usia anak-anak kelas TK. Permasalahan yang diangkat tentang adab dalam kamar mandi, cara buang air yang benar, bagian tubuh yang boleh dan tidak boleh disentuh, serta etika bergaul perempuan dan laki-laki.

Mereka telah mengujicobakan di TK ABA Dukuh, Mantrijeron Yogyakarta. Hasilnya menunjukkan media tersebut menarik minat siswa dan membuat lebih memahami pentingnya pendidikan seks sejak dini.


Agung PW/Kim

2 KOMENTAR