Perkuat Pokdarwis, UMY-Masyarakat Rintis Desa Wisata Mranggen

MAGELANG,. SM Network – Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) bersama Desa Mranggen Kecamatan Srumbung Kabupaten Magelang bekerja sama merintis Desa Wisata Mranggen (DWM). Melalui Program Pendampingan Desa Mitra (PPDM) tahun 2020 Kemenristek Dikti, perintisan ini makin diperkuat.

Program dilaksanakan oleh tim Dosen UMY, terdiri dari Sutrisno, SP, MP; Dr.Ir.Triwara Buddhi Satyarini dan Yulianto Achmad, SH, MH; ditambah Susiyanto, SE, MM dari STIPRAM Yogyakarta. Program dimulai dengan pembentukan dan pengembangan Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Surya Buana.

“Nama Surya Buana identik dengan Desa Mranggen yang sudah familiar di Kabupaten Magelang. Gagasan merintis Desa Wisata Mranggen ini sebenarnya sudah tertuang dalam RPJMDes sejak 2018, namun baru direalisasikan pada tahun 2019 melalu kerja sama ini,” ujar Sutrisno.Dia menjelaskan, program awal dimulai dengan pembetukan dan pengembangan Pokdarwis dan kegiatan rintisan pengembangan sarana. DWM ini dapat dirintis dan dikembangkan dengan konsep 4 A, yaitu Aktor (pelaku), Atraksi (sajian), Akomodasi (sarana), dan Atmosfir (dukungan lingkungan).

Bertolak dari teori ini, penguatan kelembagaan Pokdarwis menjadi yang pertama dilaksanakan. Mempersiapkan SDM pengelola wisata yang solid, tangguh, dan kreatif sangat penting. Maka fokus PPDM 2020 ini adalah penguatan Pokdarwis dan manajemen pengelolaan Desa Wisata.

“Pembangunan fasilitas awal hanya sebagai pancingan, sarana selanjutnya dapat diwujudkan dengan sinergi kerjasama. Dengan semangat dan pembekalan yang cukup, Pokdarwis atau pengelola wisata dapat berkreasi untuk menampilkan atraksi atau sajian yang menarik bagi wisatawan,” katanya.

Dia menuturkan, pengetahuan masyarakat Mranggen tentang desa wisata awalnya memang minim dan bervariasi. Namun dengan penyamaan persepsi, dukungan dan antusiasme masyarakat setempat tergolong tingg, terbukti dari partisipasinya dalam setiap kegiatan.

“Mereka meyakini jika Mranggen menjadi Desa Wisata, ada peluang pendapatan alternatif, mengingat sebagian besar masyarakat bekerja sebagai petani atau penambang pasir,” tuturnya.

Kepala Desa Mranggen, Kazis Fuadi mengutarakan, penambangan pasir Merapi di sekitar Taman Nasional Gunung Merapi (TNGM) mulai dibatasi. Sehingga, alternatif peluang penghasilan lain bagi masyarakat Mranggen harus selalu dicari.

Pihaknya pun menetapkan kebijakan desa bahwa, Desa Wisata Surya Buana Mranggen boleh memanfaatkan tanah kas desa sekitar 5 hektar sebagai area pusat desa wisata. Letaknya sangat strategis, berada di tepi jalan akses utama menuju wisata Jurang Jero dan TNGM.

“Kami mendukung penuh penguatan kelembagaan Pokdarwis dan pengelola wisata ini dengan menerbitkan SK Kepala Desa Mranggen. SK Pokdarwis ini akan diperkuat dengan pendaftaran Pokdarwis ke Dinas Pariwisata Kabupetan Magelang,” jelasnya.

Dia menyebutkan, kegiatan penguatan kelembagaan Pokdarwis dilakukan dengan workshop dan pelatihan manajemen pengelolaan desa wisata. Juga menimba pengalaman dari desa wisata lain dengan kunjungan belajar.

“Berbekal pengalaman kunjungan maupun mengundang narasumber praktisi desa wisata lain, saat ini Pokdarwis telah berbenah melakukan berbagai kegiatan. Pembuatan masterplan pusat wisata dilakukan untuk merancang pemanfaatan tanah kas desa menjadi pusat wisata (tourisme centre). Berbagai sarana juga mulai dibangun meski Pokdarwis belum mendapatkan alokasi anggaran desa,” paparnya.

Widarmadi, Ketua Pokdarwis Mranggen sekaligus Ketua Pengelola Desa Wisata mengaku, yakin meskipun baru rintisan dan Pokdarwis masih bersifat relawan yang tidak dibayar. Namun, ke depan Desa Wisata Mranggen akan berkembang dan hasilnya akan dirasakan bersama.

Dia menyebutkan, bersama 20an relawan dan anggota Pokdarwis, saat ini dibangun fasilitas awal warung kuliner, gazebo, toilet, dan lahan camping ground dengan dukungan dana PPDM. Tugu Mranggen Village dipercantik dengan harapan bisa menjadi salah satu icon yang menarik pengunjung untuk swafoto.

“Pengunjung juga bisa mempostingnya di media sosial. Hal ini akan menjadi promosi gratis bagi Desa Wisata Mranggen,” ungkapnya.

Memanfaatkan potensi alam berupa bambu yang melimpah, imbuhnya, fasilitas wisata akan didominasi bangunan bambu. Pada awalnya gazebo bambu didapatkan dengan membeli dari pengrajin gazebo, tapi saat ini mereka sudah bisa membuat bangunan bambu yang lebih baik dan rapi berkat pelatihan bambu dalam program PPDM.

“Dukungan masyarakat sudah baik, dukungan Pemerintah Desa tahap awal sudah diwujudkan dalam fasilitas pendopo Joglo yang didirikan berdekatan dengan salah satu area camping ground multifungsi yang saat ini sedang dalam proses perataan tanah. Pihak Desa Mrangen juga akan mengganggarkan pengembangan Desa Wisata dalam RPJMDes 2021 dan seterusnya,” imbuhnya.


Asef Amani

Tinggalkan Balasan