SM/Dananjoyo - PAMERAN: Pengunjung mengamati karya yang dipamerkan dalam Pameran Seni Rupa Sewindu Undang-Undang Keistimewaan (UUK) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) di Grhatama Pustaka, Bantul, DI Yogyakarta, Senin (7/9).


Peringatan Sewindu Undang-Undang Keistimewaan (UUK) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) diperingati oleh masyarakat Jogja salah satunya dengan pameran seni di Grahatama Pustaka, Dinas Perpustakaan dan Arsip DIY. Pameran ini menampilkan karya dari 80 seniman lintas generasi dan berlangsung hingga dua bulan ke depan.

Salah satunya seniman Yusman yang memajang 7 patung presiden Republik Indonesia dan relief-relief perjuangan para pejuang Yogya. Selain itu terdapat juga karya-karya para maestro, dan juga para seniman dari komunitas-komunitas seni, seperti Ikatan Istri Seniman Yogyakarta (IKAISO), Sanggar Bambu, Sanggar Dewata, Komunitas Seni Sakato, Asosiasi Pematung Indonesia (API), dan Ikatan Pematung Indonesia (IPI).

Pameran Peringatan Sewindu UUK DIY tersebut dibuka oleh Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta, Sri Sultan Hamengku Buwono X. Pada peringatan UUK DIY tersebut, Sri Sultan memaparkan sejarah panjang perjalanan keistimewaan DIY.

Menurutnya, status istimewa yang melekat dalam diri Provinsi DIY merupakan bagian integral dalam sejarah pendirian negara bangsa Indonesia. “Peran besar Yogyakarta di saat negara ini mengalami masa kritis pada awal revolusi kemerdekaan telah terukir secara nyata dalam bingkai sejarah nasional Indonesia” terang Sultan.

Sri Sultan Hamengku Buwono X juga berpesan, bahwa peringatan Sewindu UUK DIY merupakan ajang untuk merefleksikan kembali semangat keistimewaan DIY. “Semangat keistimewaan DIY harus mewujud dalam berbagai aspek kehidupan, dimana pejabat harus menjadi pelayan yang baik, dan bagi masyarakat bagaimana sikap-sikap perjuangan, kesederhanaan, dan semangat gotong royong, semangat-semangat melebur dalam kebersamaan menjadi kekuatan” jelasnya.

Pameran ini diikuti oleh para Maestro seni, seperti Edi Sunarso, Saptono, Kasman KS, Tino Sidin, Aning Prayitno, Edi Sunaryo, Joko Pekik, Suwaji, Nasirun, Dr. Suwarno Wisetrotomo, MM, Dr. Sri Margana, dan masih banyak maestro-maestro seni lainnya.

Digelar selama sebulan 31 Agustus sampai dengan 30 September 2020 dan akan diisi dengan berbagai kegiatan, seperti peluncuran karya-karya buku, lagu, gendhing, tari, diskusi, bedah buku, foto, serta promosi wisata keistimewaan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here