SM/Asef F Amani - BARANG ILEGAL: Kepala KPPBC TMP C (Bea Cukai) Magelang, Heru Prayitno beserta perwakilan unsur Polri, TNI, Satpol PP, dan Pemda memusnahkan barang kena cukai ilegal berupa rokok, tembakau iris, liquid vape, dan minuman mengandung etil alkohol.

MAGELANG, SM Network – Barang kena cukai ilegal masih saja beredar di masyarakat. Meski terus dilakukan operasi dan penindakan, barang yang merugikan masyarakat dan negara itu seolah tak ada habisnya di pasaran.

Seperti yang terjadi di wilayah Kota Magelang, Kabupaten Magelang, Purworejo, Temanggung, dan Wonosobo, peredaran barang kena cukai ilegal masih ditemukan. Barang tersebut di antaranya rokok, tembakau iris, liquid vape, dan minuman mengandung etil alkohol.

“Masih saja kita temukan di pasaran barang ilegal itu. Padahal, kita sudah aktif menggelar operasi, penindakan, dan pemusnahan,” ujar Kepala KPPBC TMP C (Bea Cukai) Magelang, Heru Prayitno di sela pemusnahan barang kena cukai ilegal di halaman kantor setempat, Kamis (25/3).

Dia menuturkan, peredaran barang kena cukai ilegal di pasaran ini masih tergolong tinggi, meski ada penurunan. Pihaknya pun tak kendor untuk terus menindaknya hingga ke titik nol peredaran.

“Tidak mustahil kita bisa mencapai nol persen peredaran barang kena cukai ilegal ini. Khususnya di wilayah pengawasan kita. Namun, kami tidak bisa sendiri, perlu ada sinergi banyak pihak, seperti Polri, TNI, Satpol PP, Pemda, dan media untuk bersama-sama memeranginya,” katanya.

Dalam kesempatan ini, pihaknya memusnahkan barang kena cukai ilegal hasil operasi bulan November 2019 sampai Januari 2021 di wilayah pengawasan Bea Cukai Magelang. Selama itu, dilakukan penindakan terhadap 45 kasus dengan mengamankan barang bukti.

Barang bukti ini kemudian dimusnahkan, antara lain 557.639 batang rokok dalam kemasan berbagai merek dan jenis. Lalu 20.005 gram tembakau iris, 3.560 mililiter liquid vape, dan 93.490 mililiter minuman mengandung etil alkohol.

“Secara simbolis kita musnahkan sebagian kecil di sini. Selanjutnya, akan kita musnahkan semuanya di Temanggung, kita punya tempat di sana. Dari 45 kasus ini, paling banyak kita temukan di wilayah Wonosobo,” jelasnya.

Heru menyebutkan, keseluruhan barang ini bernilai sekitar Rp 577.109.045 dengan potensi kerugian negara sebesar Rp 338.778.970. Adapun modus pelanggaran yang ditemukan dari kasus ini beragam, seperti tanpa dilekati pita cukai, dilekati pita cukai palsu, dan dilekati kertas yang seolah-olah berfungsi sebagai pita cukai atau biasa disebut jempel.

“Paling banyak modusnya barang kena cukai ini tanpa dilekati pita cukai. Barang-barang ini terbukti melanggar aturan UU No 39 Tahun 2007 tentang perubahan atas UU No 11/1995 tentang cukai dan telah telah ditetapkan menjadi barang yang menjadi milik negara untuk selanjutnya dimusnahkan,” paparnya.

Menurut Heru, penindakan ini dilakukan sebagai upaya melindungi masyarakat dari bahaya barang kena cukai ilegal. Juga merupakan upaya nyata dalam mengamankan hak negara dalam bentuk penerimaan di bidang cukai.

“Tak kalah penting melindungi masyarakat dari dampak negatif mengonsumsi barang kena cukai ilegal ini. Untuk mempercepat penindakan, kami punya rencana membuat aplikasi semacam laporan dari masyarakat terkait cukai dengan harapan petugas kita cepat menindaknya,” imbuhnya.