ilustrasi

Kata ‘Mudik’ dan ‘Pulang Kampung’ kini lagi santer diperbincangkan dan jadi polemik. Terlebih lagi devinis dua kata tersebut dilontarkan langsung oleh presiden Joko Widodo beberapa hari lalu seiring upaya pemerintah dalam memutus rantai penularan Covid-19. Walau presiden sudah menjelaskan perbedaan dua kata itu, namun publik masih terus memperdebatkan hingga saat ini.

Menurut peneliti dari Balai Bahasa DIY, Dra Wiwin Erni Siti Nurlina penggunaan kata ‘Mudik’ dan ‘Pulang Kampung’ sebetulnya berbeda karena perkembangan komponen maknanya. “Perlu dikemukakan bahwa kata itu dapat berkembang menjadi istilah. Semua istilah merupakan kata, tetapi semua kata belum tentu menjadi istilah, ” kata Wiwin dilansir kr Senin (27/04/2020).

Menurut Wiwin ‘Mudik’ memiliki komponen makna yang berkaitan dengan libur Lebaran dimana memiliki jangka waktu dalam tertentu. Setelah libur Lebaran usai, pemudik kembali lagi ke tempat sebelum mudik (ke rantau atau tempat kerja).

“Itulah yang dinamakan peristiwa penyempitan makna. Proses tersebut terjadi karena kata yang bersangkutan menjadi istilah,” tambahnya.

Untuk kata ‘Pulang Kampung’ masih menjadi kata biasa yang memiliki makna pulang ke kampung atau kembali ke kampung untuk jangka waktu yang tidak ditentukan. Bahkan seorang yang pulang kampung belum tentu kembali lagi ke tempat sebelum ia pulang kampung.

Wiwin menambahkan ada juga bentukan kata turunan yang menjadikan kata ‘Mudik’ dan ‘Pulang Kampung’ tersebut memiliki perbedaan. Kata ‘Pemudik’ tidak sama dengan kata ‘Pemulang Kampung’, demikian juga kata ‘Dipulangkampungkan’ tidak sama dengan ‘Dimudikkan’.

Menurut wawasan linguistik, Wiwin mengutip pendapat Eugene Nida dalam bukunya yang berjudul ‘Componential Analysis of Meaning : Introduction to Semantic Structure’. Dalam buku tersebut menuliskan setiap kata memiliki komponen makna. “Komponen makna itulah yang dapat menentukan sebuah kata merupakan sinonim, polisemi, homonim dan sebagainya,” pungkasnya.


SM Network/kr