Pentas Wayang Usir Pagebluk Tanpa Penonton

YOGYAKARTA, SM Network – Segala langkah diupayakan guna mengantisipasi wabah korona yang menyebar ke seluruh dunia termasuk Indonesia. Pemerintah dan seluruh elemen bangsa bersama-sama berusaha menghentikan penyebarannya dengan berbagai model dan merawat pasien secara maksimal.

Masyarakat juga berusaha melakukan upaya secara kreatif mandiri seperti mengkarantina wilayah masing-masing dan menjaga kebersihan. Ada pula yang melakukannya melalui pintu seni budaya dan keyakinan seperti yang dilakukan Ki Purwadi. Doktor filsafat Jawa ini menggelar pentas wayang kulit tolak balak, agar pagebluk atau wabah korona segera berakhir.

”Pentas tidak untuk ditonton langsung secara umum karena ini bukan pentas hiburan tapi pentas sakral agar wabah segera sumingkir,” tutur Purwadi sebelum memulai pentas, kemarin.

Pagelaran wayang purwa mengikuti pola pakem sebagai sarana tuntutan, tontonan dan tatanan. Pentas digelar Sanggar Pustaka Laras, Jalan Kakap Raya, Minomartani, Sleman. Pakeliran wayang kulit dalam rangka tolak balak dimulai dengan alunan gendhing patalon yang bersifat mistis magis. Ini melambangkan asal usul kehidupan manusia. Suara gamelan sungguh menusuk kalbu terlebih dalam suasana seperti sekarang.

Ayem Tentrem Lakon pakeliran kali ini memang khusus menghadapi bencana. Hal serupa pernah dilakukan saat Tuban banjir besar. Purwadi membawakan lakon ”Cahya Ndadari Surya Ndadari”. Tujuannya, supaya dunia terang benderang. Di balik wabah corona yang melanda dunia, mantra Jawa mendatangkan keselarasan.

Jagad gumelar dan jagad gumulung menjadi kesatuan yang harmonis. Lakon yang dibawakan Ki Purwadi menceritakan Negeri Amarta mendapat persoalan sosial akibat wabah atau pageblug mayangkara. Kesedihan makin menyayat dengan kepergian Arjuna yang tak kunjung pulang. Atas saran Prabu Kresna, Dewi Wara Sembadra diutus untuk mencari sang suami.

Di tengah jalan pengiringnya berpapasan dengan Suryo Ndadari. Ia hendak menjajah Negeri Amarta. Dikisahkannya, putra Pandawa kalah semua. Lantas Sembadra disuruh menaklukkan dengan nama samaran, Cahya Ndadari. Keduanya kemudian berperang. Suryo Ndadari dan Cahya Ndandari berubah ke wujud semula yakni Arjuna dan Sembadra.

Suami istri ini bisa meredakan menjalarnya wabah penyakit. Negeri Amarta kembali ayem tentrem sehingga Prabu Puntadewa bergembira ria beserta keluarga Pandawa. ”Usai pentas kami lanjutkan pembacaan mantra kidung tolak balak,” imbuh Purwadi.


Agung PW/Kim

Tinggalkan Balasan