Pentas Virtual, Pagelaran Wayang Disertai Sinopsis Dalam 5 Bahasa

PURWOREJO, SM Network – Ada yang berbeda dalam pentas wayang kulit bertajuk Tepang Wayang yang digelar SMA Negeri 7 Purworejo. Pentas wayang yang merupakan perhelatan puncak ulang tahun SMA 7 Purworejo ke-29 itu disertai pembacaan sinopsis dalam lima bahasa.

Lantaran masih dalam masa pandemi Covid-19, pentas wayang digelar di Gedung Wisma Budaya SMA 7 Purworejo itu diselenggarakan secara virtual. Dalang perempuan Dwi Puspita Ningrum yang juga guru Bahasa Jawa di sekolah, tampil membawakan lakon Bimo Bungkus. Mengawali pementasan, terlebih dulu dibaca sinopsis lakon ini dalam lima bahasa, yakni Bahasa Indonesia, Bahasa Jawa, Bahasa Inggris, Bahasa Jepang, dan Bahasa Prancis.

“Lima bahasa itu diajarkan di sekolah kami dan menjadi salah satu keunggulan,” ungkap Kepala SMA Negeri 7 Purworejo Niken Wahyuni, di sela-sela pementasan, Sabtu (5/9) malam.

Menurut Niken, pemilihan lakon Bimo Bungkus atau Bimo Nugroho untuk dipentaskan karena memiliki filosofi yang sama dengan kelahiran SMA Negeri 7 Purworejo. Lakon berkisah tentang kelahiran Bimo tokoh Pandawa yang memiliki nama lain Brotoseno atau Raden Werkudara, yang dilahirkan ke dunia dalam keadaan terbungkus selaput. Namun, tokoh ini sudah memiliki kekuatan luar biasa, yang kemudian dikeluarkan oleh para dewa.

“Tokoh ini kemudian menjadi lakon yang hebat, dan harapan kami laku Bima dalam cerita pewayangan bisa menginspirasi keluarga besar SMAN 7 Purworejo,” tuturnya.

Dengan diselenggarakan secara virtual, lanjut Niken, pentas wayang kulit ini bisa disaksikan oleh seluruh siswa dan guru dari rumah masing-masing karena disiarkan secara langsung melalui aplikasi video youtube. Pentas ini sekaligus merupakan upaya sekolah dalam membantu seniman di Kabupaten Purworejo di tengah masa pandemi.

“Harapan kami pentas ini bisa menjadi ajang untuk membantu para seniman, sehingga tetap bisa berkarya meski di tengah pandemi,” imbuhnya.

Salah satu pegiat seni wayang warga Desa Kemranggen Kecamatan Bruno, Sofyan, mengungkapkan bahwa meskipun pemerintah sudah mencabut pembatasan dan membolehkan pentas dengan terbatas, namun kenyataannya belum ada permintaan untuk mementaskan wayang kulit seperti sebelum terjadinya pandemi.

Oleh karena itu, seniman wayang dan karawitan juga didorong untuk berkreasi dengan memanfaatkan media yang aman dari penularan Covid-19. Inovasi antara lain dilakukan dengan pentas secara virtual. Komunikasi juga dijalin dengan berbagai pihak dan banyak yang membantu serta mengapresiasi.

Menurut Sofyan, terjadinya pandemi sangat berdampak, karena dengan tidak adanya pagelaran selama pandemi berarti tidak ada penghasilan bagi para pelaku seni. Dengan berinovasi, maka para seniman diharapkan bisa bertahan di tengah pandemi. “Kami juga berterima kasih kepada sekolah yang sudah memfasilitasi pentas virtual ini,” tambahnya.

2 Komentar

  1. 653530 345921hi this post help me full . .in case you want watches males pay a visit to my web sites is really support you for men watches. .thank man very good job. 391291

  2. 914020 436285What a lovely weblog. I will certainly be back once more. Please sustain writing! 865853

Tinggalkan Balasan