Pengungsi Masih Enggan Ungsikan Ternak Mereka

JOGJAKARTA, SM Network – Sejumlah peternak sapi perah di lereng gunung Merapi di Glagaharjo, Cangkringan Sleman hingga saat ini diketahui masih ada yang enggan belum mengungsikan sebagian ternaknya ke lokasi kandang pengungsian.

Hal itu disebabkan karena mereka khawatir tidak bisa mendapatkan pemasukan sehari-hari dari hasil memerah susu sapi mereka.

Seperti Wakinem (39) salah satu warga di Dusun Kali Tengah Lor, Glagaharjo. Menurutnya selain fasilitas kandang di barak pengungsian ternak yang dinilai kurang memadai, Ia juga khawatir sapi akan stres jika harus dipindahkan ke barak pengungsian sehingga dapat mengurangi jumlah produksi susu ternak. Sementara hal tersebut menjadi sumber pemasukan penting bagi warga.

“Kalau di pengungsian kandangnya memang didesain kandang ternak sementara. Jadi tidak ada kelengkapan yang dibutuhkan peternak sapi perah, seperti kandang steril serta tandon air untuk membersihkan ternak. Jadi saya memutuskan sementara belum ungsikan. Apalagi situasi gunung Merapi, sampai saat ini masih relatif aman,” ujar ibu dua orang anak ini.

Rumah Wakinem sendiri berada hanya sekitar 100 meter dari penghujung Dusun dari Dusun paling utara di wilayah Sleman, DIY tersebut. Dan setelah itu tidak ada rumah atau hunian lagi hanya hutan dan jurang yang berada di lereng Merapi atau berjarak sekitar 4 hingga 5 kilometer dari puncak Merapi.

Pada erupsi 2006 lalu saat anak pertama masih kecil, rumahnya masih selamat dari material merapi hanya abu yang menutupi, namun ketika 2010 lalu, rumahnya habis tak bersisa.

“Hanya tersisa pondasi rumah dan ternak yang berjumlah 5 ekor mati, beruntung empat hari sebelum erupsi, Ia bersama suami dan warga sudah mengungsi ke barak pengungsian,” kisahnya.

Pemerintah bersama pihak terkait sendiri saat ini menetapkan radius aman sejauh 5 kilometer dari puncak Merapi. Mengingat status Gunung Merapi masih berada di level III atau Siaga. Peningkatan radius aman diperkirakan akan semakin bertambah jika aktivitas Gunung Merapi semakin meningkat dan memasuki fase level IV atau Awas.

“Kalau memang nanti Merapi sudah Awas, kemungkinan saya baru akan ungsikan ternak. Atau kalau tidak ya saya jual. Takutnya kalau memelihara di kandang pengungsian repot. Meski harga jualnya pasti turun dari harga normal, yakni sekitar Rp1 hingga 2 juta,” keluhnya

Dia mengatakan, potensi ternak sapi di wilayahnya sangat bagus. Lahan rerumputan masih luas, sehingga menjadi faktor warga tertarik berternak sapi. Dalam sehari rata-rata produksi susu satu ekor sapi perah mencapai 10 hingga 15 liter untuk ras sapi campuran atau F2. Dan, 20 liter untuk sapi ras import (F1).

Sementara harga susu per liternya mencapai Rp7 ribu-an dijual ke pengecer dan Rp 6 ribu dijual ke koperasi setempat.

“Susu diproduksi dua kali sehari, pagi dan sore. Rata-rata per hari saya setor 40 liter dengan jumlah tiga ekor sapi,” terangnya.

Dengan demikian dalam satu hari dia bisa mengantongi setidaknya Rp 200 ribu lebih, namun sebagian juga dibelikan kosentrat khusus sapi perah.

Tinggalkan Balasan