Doa Bersama Untuk Dua Tokoh Besar Sastrawan

MUNGKID, SM Network – Sejumlah penggiat budaya dari berbagai kota terpilih menggelar acara doa dan kesaksian untuk sastrawan nasional yang wafat beberapa waktu yang lalu, yakni Sapardi Djoko Damono dan Ajip Rosyidi. Acara tersebut bertempat di Sanggar Seni Joglo Pete, Desa Majaksingi, Kecamatan Borobudur.

“Kegiatan malam ini adalah tahlil dan mbaca surah Yasin, yang kami beri istilah tahlil pujanggan,” jelas inisiator acara doa dan kesaksian untuk sastrawan nasional Sapardi Djoko Damono dan Ajip Rosyidi, Joko Koentono, Jumat (28/8) petang.

Acara itu bermula saat dirinya dan tiga teman yang lain, yakni Adi Maryono dan Rachel Harrison pemilik Joglo Pete. “Saat perjalanan Tilik Soto sampai Kediri, 19 Juli 2020, berita kemangkatan Pak Sapardi saya terima. Ada sesal belum sempat besuk ke RS maupun rumah di Ciputat. Melalui pesan singkat, saya sampaikan ke Mas Adi. Dia menyetujui. Doa dan Kesaksian untuk Sapardi Djoko Damono diselenggarakan tanggal 28 Agustus 2020,” ujarnya.

Setiba di Mojosari, 29 Juli 2020, giliran berita kemangkatan Pak Ajip Rosidi datang dari sahabat di Magelang. Acara doa dan kesaksian pun ditambah. Memasukkan nama satu nama lagi, Ajip Rosidi. “Mendengar kabar duka itu, maka saya bersama Iftachuk Ngumar, Ignatius Yudistira membuat rencana. Mas Adi mendukung fasilitas dan kemudahan-kemudahan. Jadilah perhelatan sederhana semalam, di Joglo Pete, Borobudur, berlangsung lancar dan khidmat dalam kebersamaan,” kata Joko.

Untuk konsep acara sendiri ia memilih format plataran (arena) dibanding panggung (prosenium). “Untuk acara Doa dan Kesaksian untuk Sapardi Djoko Damono dan Ajip Rosidi, sengaja dikonsep menjadi seni plataran. Plot yang dibuat hanya sebagai rujukan. Selebihnya digulirkan begitu saja secara longgar dan cair. Menjadi ritual doa di suatu pelataran,” paparnya.

Acara dibuka oleh kemunculan Tari Gambyong, disusul Umbul Donga – persembahan Sanggar Tari Joglo Pete. Disusul sambutan dan kesaksian. Di situ ada Rachel Harisson sebagai tuan rumah, Ibu Titi Sruti Nastiti – mewakili keluarga Bapak Ajip Rosidi, disambung Tanto Mendut, AS. Laksana dan Farid Gaban. Bambang Eka Prasetiyo membabar cerita Raja Mandhata dalam gaya teaterikal. Memet Chaerul Slamet, Herman Rock dan Christina (penari), terasa padu dalam kolaborasi bunyi dan tari. Acara dipungkasi solah bawa pasangan Hari Genduk dan Mbak Thing, membawakan Maskumambang Tolak Pagebluk. Disusul tembang Ibu Pertiwi sebagai penutup. Membuat rangkaian acara itu terasa khidmat dan komplit.

Satu pertunjukan panjang, berlangsung mulai 19.30 sampai 22.30, itu seperti menampilkan keberagaman repertoar yang terjalin menjadi satu-kesatuan yang utuh. Saling beri dan melengkapi. Adi Maryono, Dedi PAW, Faizal Pondok Tinggal dan Ninditiyo, mewakili komunitas Borobudur, ikut membaca puisi. Kebersamaan terajut menjadi nyawa pada suatu Doa.

Joko juga menjelaskan acara tersebut lebih sekedar menjaga tradisi melalui wilujengan atau khanduri kebersamaan sekaligus doa-doa dipanjatkan. “Semoga sempurna pungkasan hidup mendiang berdua, pujangga, juga guru bagi semua yang hidup. Semoga berkah kemanfaatan bagi semua keluarga yang ditinggalkan serta sahabat kerabat yang hadir,” harap Joko.

Sementara itu, Rachel Harrison pemilik sanggar seni Joglo Pete menjelaskan bahwa pementasan tari Gambyong dipilih karena memiliki makna sebagai tarian keselamatan. “Karena sekarang musim pandemi Covid-19, tarian itu juga sebagai simbol tolak bala agar Covid-19 segera hilang dari bumi,” kata Rachel.

Ia juga mengungkapkan karena masih terjadi pandemi, maka undangan terbatas. Hanya dihadiri 35 orang saja, yang berasal dari keluarga dan berbagai seniman terpilih dari luar kota.

Rachel mengatakan bahwa suatu kehormatan dan kebanggan bisa menjadi tuan rumah acara yang sangat mulia ini. “Saya sendiri belum pernah bertemu dengan mereka. Menurut saya mereka dua tokoh besar di bidang sastra, yang merupakan tokoh panutan dan inspiratif. Meskipun saya tidak mengenal secara pribadi, kami kenal melalui karya-karya beliau seperti budaya Jawa yang sering saya pelajari dan cintai,” imbuhnya.

Menurutnya karya-karya Sapadi sangat indah, dan karyanya kaya akan makna. “Kedalaman makna membuat kita masuk ke dalam ketiadaan seperti puisinya yang berjudul Aku ingin,” pungkas Rachel.

Rachel juga mengungkapkan rasa bangganya terhadap sosok dua sastrawan tersebut. “Betapa bangga kami kepada Bapak Ajip yang mengajarkan banyak hal tentang ilmu kehidupan tidak hanya kaya besar sastra beliau. Sebab sastra merupakan media dan sarana pembentukan karakter bangsa,” tambahnya.

Tinggalkan Balasan