SM/dok - KUNJUNGAN : Pemkab Kulon Progo saat menerima kunjungan kerja Pemkab Bojonegoro di Ruang Menoreh, kompleks Pemkab Kulon Progo untuk studi pengembangan budidaya bunga krisan.

KULONPROGO, SM Network – Pengembangan budidaya bunga krisan di Kabupaten Kulon Progo akan dirintis untuk membidik pasar ekspor, disamping menyasar pasar lokal yang selama ini sudah berjalan.

Hal itu terungkap saat Pemkab Kulon Progo menerima kunjungan kerja dari Pemkab Bojonegoro, Jawa Timur. Kunker bertujuan melakukan study tiru dan mencari ilmu tentang potensi serta prospek pengembangan bunga krisan.

Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Kulon Progo, Muh Aris Nugraha, mengungkapkan bahwa pengembangan budidaya bunga krisan di Kulon Progo mendapat dukungan berbagai sektor mulai dari APBN, non APBN, CSR, dan lainnya. Pada 2020 ini melalui dana tugas perbantuan APBN akan dikembangkan di tiga kelompok tani di kawasan agrowista krisan.

“Ke depan selain pasar lokal, akan dirintis juga untuk produk ekspor, harapannya dapat mengespor bunga Krisan dari Kulon Progo,” kata Aris Nugraha, kemarin.

Selain itu, infrastuktur juga terus dikelola untuk menunjang agrowisata bunga krisan. Beberpa kegiatan diantaranya pelatihan dan sosialisasi, dengan peserta dari beberapa wilayah budidaya krisan bertujuan untuk memacu semangat petani membudidayakan krisan.

Aris menambahkan, untuk pembinaan, selain dibentuk kelompok tani juga dikukuhkan paguyuban petani pembudidaya krisan dengan nama paguyuban Seruni Menoreh yang beranggotaan ketua masing-masing kelompok tani. Dengan pembentukan paguyuban ini diharapkan dapat mewadahi pemasaran melalui satu pintu dari paguyuban.

“Untuk pengaturan tata tanam juga dilakukan oleh paguyuban agar pasokan bunga krisan sepanjang bulan terus ada,” imbuhnya.

Bupati Kulon Progo, Sutedjo, mengatakan bahwa Kulon Progo sampai saat ini masih termasuk daerah agraris dan masih bertumpu pada sektor pertanian untuk menunjang pertumbuhan daerah. Sektor pertanian yang ada di Kabupaten Kulon Progo masih lengkap, mulai dari tanaman pangan, hortikultura, dan jenis tanaman lainnya.

Lebih jauh, Sutedjo menjelaskan pada sektor pertanian khususnya pangan, beras di Kulon Progo selalu surplus 30 ton setiap tahun. Wilayah selatan Kulon Progo juga merupakan sentra petani cabai yang memasok kebutuhan di dalam maupun luar Kulon Progo, selain juga berkembang pertanian buah khusunya semangka dan melon.

“Kemudian di lereng pegunungan terdapat kebijakan tersendiri, salah satunya di Kapanewon (Kecamatan –red) Samigaluh dikembangkan bunga krisan dan ternyata cocok,” katanya.

Kunjungan kerja Pemkab Bojonegoro dengan rombongan berjumlah 10 orang tersebut dipimpin oleh Bupati Bojonegoro Anna Muawanah dan diterima Bupati Kulon Progo Sutedjo didampingi Kepala Dinas Pertanian dan Pangan, Muh Aris Nugraha.

“Rencana kami melakukan study tiru ini ke Tomohon, namun terlalu jauh, dan kita memilih yang terdekat di DIY, khususnya di Kulon Progo,” kata Anna Muawanah.

Selain itu, tujuan study tiru ini untuk menumbuhkembangkan sektor ekonomi kerakyatan yang berbasis pertanian. Karena Kabupaten Bojonegoro merupakan salah satu sumber migas di Indonesia, maka selain harus menopang program strategis nasional migas sekaligus juga sebagai salah satu penopang lumbung pangan di Jawa Timur.

Anna menambahkan, pada bidang pertanian, sektor hortikultura ini yang akan terus didorong sebagai ekonomi berbasis kerakyatan. “Apa yang ada di Kulon Progo kami harapkan dapat diterapkan di Bojonegoro,” imbuhnya.


Panuju Triangga)