Penerima Bantuan Sembako di Desa Girijoyo Kemiri Purworejo Juga Dipungut Biaya, Selain BLT Dipotong 50 Persen

PURWOREJO, SM Network – Selain bantuan tunai yang dipotong hingga limapuluh persen, penerima bantuan sembako di Desa Girijoyo Kecamatan Kemiri, juga dikenakan biaya Rp 60 ribu, oleh pemerintah desa setempat. Pungutan itu konon dipergunakan untuk pembuatan rekening bank yang akan dipergunakan untuk penyaluran bantuan.

Hal itu diungkapkan oleh Sulastri (29), ibu rumah tangga asal RT 2 RW 1 Desa Girijoyo, yang menjadi salah satu penerima bantuan sembako covid-19, dari pemerintah Provinsi Jawa Tengah.

“Saya dapat undangan dari desa melalui surat dari Pak RT, suruh kumpulan di balai desa katanya dapat bantuan sembako. Disana orang-orang (penerima bantuan) di kasih tahu suruh bayar Rp 50 ribu untuk buat rekening, tapi kita disuruh jawab gratis kalau ditanya sama pegawai banknya,” kata Sulastri.

Ia mengatakan, setelah membuat rekening atas nama dirinya di balai desa setempat, dan dibebani biaya Rp 50 ribu, rekening dan kartu ATM juga diminta oleh perangkat Desa Girijoyo, dengan alasan untuk keperluan pengambilan bantuan.

“(Dari petugas bank, rekeningnya,red) dikasih ke saya terus, bu kadus minta rekeninge ditahan, sama kartu ATM dan amplopnya (yang berisi informasi nomor pin),” kata Sulastri.

Beberapa hari kemudian, lanjut Sulastri, Ia mendapatkan undangan untuk mengambil sembako. Namun Ia tidak mendapatkan jatah yang sama seperti halnya lainya. Sulastri hanya menerima satu paket sembako dari seharusnya dua paket.

“Pas itu ada dua paket sembako, tapi katanya saya cuma dapat satu, kata pak kaur (Kesra) karena saya sudah menerima BLT DD (tahap satu), yasudah saya terima saja, terus pada pengambilan terakhir saya dapat undangan, dan disuruh bayar lagi Rp 10 ribu katanya untuk biaya transportasi,” katannya.

Hal yang sama juga dikatakan oleh Sumartono (60) dan Sarbini (28), warga dengan alamat yang sama dengan Sulastri. Mereka mengaku awam dengan peraturan, sehingga menuruti permintaan dari pemerintah desa terkait biaya Rp 60 ribu tersebut.

“Saya sampai sekarang tidak pegang ATM nya, ya sama suruh bayar Rp 50 ribu sama Rp 10 ribu,” kata Semartono.

“Sebenarnya saya bertanya-tanya, kok ditarik biaya, tapi karena takut ya saya manut saja,” kata Sarbini.

Menanggapi hal tersebut Kepala Desa Girijoyo, Jaeman, mengakui adanya biaya Rp 60 ribu yang dibebankan kepada masyarakat penerima bantuan sembako. Menurutnya biaya tersebut digunakan untuk biaya operasional penyaluran bantuan.

“Biaya itu dipergunakan untuk meterai, atk, dan untuk pengambilan dari ewarung di Desa Dilem,” kata Jaeman.

Terkait dengan kartu ATM yang ditahan oleh pihak desa, Jaeman mengatakan, digunakan untuk memudahkan pengambilan bantuan yang dilakukan secara kolektif. Cara itu juga bertujuan untuk memudahkan masyarakat.

“Pengambilanya kan kolektif, kalau (kartu ATM) dibawa masing-masing nanti pas mau ngambil bantuan repot mengumpulkan lagi,” pungkas Jaeman.

Diberitakan sebelumnya, sejumlah masyarakat di Desa Girijoyo juga mengeluhkan adanya pemotongan bantuan terhadap bantuan uang tunai bagi masyarakat terdampak covid-19. Besaran potongan mencapai limapuluh persen dari total yang seharusnya diterima.


Heru Prayogo

3 Komentar

  1. Hi there, after reading this amazing paragraph i am as well delighted to share my knowledge here with friends.

  2. These are actually great ideas in concerning blogging.

Tinggalkan Balasan