SM/Dananjoyo : Anak-anak penambang pasir bermain di sekitar sungai aliran material Merapi, di Kali Kuning, Pakem, Sleman, DI Yogyakarta, Selasa (12/1).

JOGJAKARTA, SM Network – Meskipun aktivitas Gunung Merapi meningkat dengan mengeluarkan lava pijar dan guguran awan panas, namun aktivitas menambang pasir di alur sungai-sungai Gunung Merapi masih dilakukan.

Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sleman, DIY, serta Pemkab Magelang, Boyolali, dan Klaten, Jawa Tengah telah menyiapkan mitigasi bencana akibat letusan gunung berapi di perbatasan DIY – Jateng tersebut, seperti yang dihimbau oleh Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG).

Kepala BPPTKG Hanik Humaida menyebutkan Gunung Merapi telah memasuki fase awal erupsi sejak 31 Desember 2020 yang ditandai dengan munculnya api diam hingga fenomena guguran lava pijar dari puncak yang terlihat pertama kali pada 4 Januari 2021 malam.

Hanik memperkirakan, fase awal erupsi Merapi ini sekaligus menjadi awal indikasi proses intrusi magma yang masih akan terjadi. Perkiraan tersebut berdasarkan data seismik dan deformasi yang tinggi.

Hanik juga menyampaikan bahwa erupsi eksplosif masih mungkin terjadi setiap saat. Meski pihaknya memprediksi letusannya tak akan lebih besar dari erupsi 2010.

Namun demikian, pihaknya belum menaikkan status Merapi dari siaga ke awas. Sebab, peningkatan status gunung berapi didasarkan pada ancaman bahaya erupsi terhadap penduduk.

“Termasuk menutup sementara aktivitas penambangan pasir yang berhulu di puncak Merapi, dan menghindari aktivitas pariwisata di Kawasan Rawan Bencana III,” ucapnya

Sementara, dari peristiwa yang terjadi di gunung Merapi, lanjutnya, luncuran lava pijar belum mencapai jarak yang membahayakan penduduk.

Gunung Merapi sendiri mulai memuntahkan lava pijar berkali-kali, sejak muncul gundukan yang diduga kubah lava baru di lava 97 puncak gunung tersebut.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here