Pembeli Lesu, Pembudidaya Gurame Bidik ASN

KEBUMEN, SM Network – Daya beli masyarakat terhadap ikan, khususnya gurame berkurang di masa pandemi Covid-19 ini. Harganya pun menurun di kisaran Rp 35.000 perkilogram.

“Terus terang kondisi sekarang memberatkan kami. Sehingga perlu pemasaran gurame yang tepat dan efektif di masa pandemi korona ini,” kata Ketua Forum Pembudidaya Ikan Kecamatan Bonorowo, Wibisono Susanto saat mendatangi Dinas Kelautan dan Perikanan (Dinlutkan) Kebumen, Rabu (20/5).

Ia dan anggota kelompoknya sengaja mendatangi kantor tersebut untuk membidik ASN. Sebelumnya ia menjual di sejumlah instansi lainnya, seperti Dispermades P3A, Kantor Setda dan RSUD Prembun.

Wibisono Susanto menambahkan, stok gurame pada pembudidaya yang dinaunginya sebesar 10 ton. Dengan menyasar ke ASN, stok yang ada kini berkurang 3 kuintal.

“Biasanya dibeli pengepul dari Banjar, Tasik dan Purwokerto. Tapi sekarang tidak berani beli. Apalagi rumah makan banyak yang tutup,” ucapnya perihatin.

Dikatakan, tindakan yang dilakukannya sekaligus untuk menyelamatkan program. Mengingat, hasil budidaya gurame itu merupakan program bantuan Dislutkan. Pihaknya pun berharap sisa 7 kuintal segera terjual.

Plt Duslutkan Kebumen Nugroho Tri Waluyo didampingi Kabid Perikanan Budidaya Ikan Budiono menjelaskan, untuk membantu pemasaran gurame, pihaknya memberikan imbauan kepada ASN untuk membeli hasil panen dari kelompok pembudidaya.

“Di sini bisa dijual Rp 43.000 perkilogramnya,” ujar Nugroho sembari menambahkan, dari 60 ASN di dinas yang dipimpinnya membutuhkan sedikitnya 1 kuintal gurame.

Disebutkan, hasil panen gurame tersebut awalnya memang bantuan dari Dislutkan untuk Kecamatan Bonorowo dengan nilai Rp 500 juta. Bantuan berupa hibah sarana dan prasarana, pompa air, kolam terpal, benih dan pakan ikan. “Ikannya nila dan gurameh, yang jadi program unggulan kecamatan Bonorowo,” imbuhnya.

Sementara itu, di wilayah lain telah ada kampung gurame. Tepatnya di Desa Jatijajar Kecamatan Ayah. Program tersebut digelontorkan pada 2018 dan 2019 yang terintegrasi dengan pariwisata dan perikanan.

Tahun pertama pembesaran gurame dengan bantuan Rp 433.755.000 dan tahun 2019 Rp 355.575.000 untuk enam kelompok. Total Rp 778.330.000. “Tahun kedua selain pembesaran, juga ada indukan,” ungkap Nugroho.

Terdapat pula kampung nila di Sempor serta kolam bundar dan sayur mayur yang saat ini tengah diujicobakan. “Ada pula yang dibudidayakan dengan ember,” ucapnya.


Arif Widodo

Tinggalkan Balasan