Pembangunan Bendungan Bener Masih Dihentikan

PURWOREJO, SM Network – Sejak akhir Desember 2019, pembangunan proyek Bendungan Bener masih belum mandeg. Hal ini menyusul aksi protes ribuan warga terdampak yang meminta tanahnya diberikan ganti rugi yang layak. Humas PT Waskita Karya, I Nyoman Cumawis, mengatakan, pihaknya terpaksa menghentikan semua aktivitas proyek selama dua minggu terakhir. Akibatnya, tahap pembangunan spillway bendungan bener yang direncanakan rampung pertengahan ini terancam tidak tepat waktu.

“Semua alat berat dan sekitar 60 karyawan kami nganggur, bahkan pintu menuju lokasi (proyek) kita tutup, padahal pengerjaan spillway ini direncanakan sudah dapat selesai pertengahan tahun ini, tapi ya bagaimana lagi, sebelum masalah warga selesai, kami belum bisa kerjakan,” katanya, Senin (13/1).

Nyoman menjelaskan, pembangunan spillway bendungan bener memerlukan penurunan lahan lebih kurang 80 meter. Sementara ini, proses penurunan tanah baru mencapai sekitar 30 sampai dengan 40 meter, artinya belum mencapai 50% dari kedalaman yang ditentukan. Kendati dikejar waktu, Nyoman mengaku, pelaksana proyek tidak dapat mengambil tindakan. Pasalnya tuntutan warga terkait nilai ganti rugi tidak ada kainya dengan pelaksana proyek. Ia juga mengatakan, komunikasi dengan warga setempat juga sedikit terganggu.

“Sementara ini tidak ada komunikasi apa-apa dengan warga (terdampak),” katanya.

Selain aktivitas proyek yang berhenti, lanjut Nyoman, pihaknya masih menyelesaikan proses perbaikan terhadap rumah warga yang rusak akibat getaran yang ditimbulkan oleh ledakan atau aktivitas blasting yang dilakukan oleh PT Waskita Karya.

“Perbaikan rumah yang retak-retak masih kami lanjutkan, hanya proyek yang berhenti,” katanya.

Terpisah, Kepala Desa Guntur Kecamatan Bener, Nukholip, mengatakan, masyarakat terdampak pembangunan Bendungan Bener masih bersitegas untuk tidak ada aktivitas proyek, khususnya galian, sebelum ada kesepakatan nilai ganti rugi. “Masyarakat berkehendak proyek dihentikan sebelum ada kejelasan ganti rugi. Tuntutan kami sebenarnya sederhana, tolong tanah kami dihargai dengan manusiawi,” tandasnya.


Sugeng Heru P

Tinggalkan Balasan