Pelayanan di RSUD KRT Setjonegoro Dipastikan Tidak Terganggu

WONOSOBO, SM Network – Pasien terkonfirmasi Covid-19 di Kabupaten Wonosobo hingga, Senin (28/9), telah mencapai 552 pasien. 352 pasien telah dinyatakan sembuh, 11 meninggal dunia, dan 189 masih dirawat di beberapa rumah sakit yang ada di Wonosobo. Salah satunya Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) KRT Setjonegoro. Meski merawat pasien Covid-19, pelayanan di RSUD KRT Setjonegoro dipastikan aman dan tidak terganggu. Hal tersebut disampaikan Kepala Bidang Pelayanan RSUD KRT Setjonegoro, Emi Hidayati saat ditemui, Senin (28/9).

Emi mengatakan, sempat ada penurunan pasien yang datang ke Rumah Sakit (RS) saat akhir Maret lalu. Menurutnya, banyak masyarakat yang takut dan enggan datang ke RS meski membutuhkan pelayanan kesehatan. Dengan edukasi dan pemahaman yang baik, kini sudah kembali normal dengan tetap menerapkan protokol kesehatan yang ketat.

“Yang kita takutkan pasien sudah dengan keluhan namun tidak berobat. Dan ketika dibawa ke RS sudah dengan keadaan yang memburuk. Seharusnya pasien sudah mendapatkan perawatan tapi justru tidak diperiksa, itu terus kita edukasi. dan Alhamdulillah sekarang sudah kembali normal meski harus dengan protokol kesehatan yang ketat,” jelasnya.

RSUD KRT Setjonegoro, lanjut Emi, dipastikan aman karena menggunakan protokol kesehatan mulai dari pasien datang. Baik rawat inap, rawat jalan, maupun pasien yang masuk ke IGD. Fasilitas kesehatan pun di sterilisasi menggunakan disinfektan dua kali sehari sebelum pelayanan dan sesudah pelayanan.

“Rumah sakit kita pastikan aman untuk pasien. Petugas sudah dicek kesehatan menggunakan swab dan tidak terpapar. Kita berharap masyarakat Wonosobo yang butuh pelayanan kesehatan jangan takut datang ke RS, tapi tetap jaga protokol kesehatan. Jika membutuhkan pelayanan RS maupun Puskesmas jangan ditunda. Jangan sampai penyakitnya tambah parah dan tidak tertangani,” terangnya.

Emi mengatakan, tidak ada perubahan yang signifikan terkait pelayanan RS. Yang membedakan hanya penambahan protokol kesehatan Covid-19 seperti wajib cuci tangan dan menggunakan masker bagi tamu, pengunjung, maupun pasien yang berobat.

Untuk pasien yang berada di ruang non isolasi jumlah pengunjung juga dibatasi hanya dua orang dan maksimal hanya diberi waktu 15 menit. Untuk pasien rawat inap yang berada di ruang isolasi, dijelaskan Emi, tidak boleh dikunjungi. Namun komunikasi keluarga dan pasien tetap bisa dilakukan dengan difasilitasi oleh petugas RS.

“Semua yang rawat inap kita rapid test terlebih dahulu. Fungsinya untuk memilah akan ditempatkan di ruang isolasi ataupun bangsal biasa. Pasien akan dirawat sesuai gejala. Misalnya pasien kena tipes dan non reaktif, maka akan kita tempatkan di bangsal biasa tipesnya kita tangani. Misalnya ternyata reaktif, maka kita tempatkan di ruang isolasi, tipesnya kita tangani dan reaktifnya itu juga kita tangani. Dan tidak ada penambahan biaya, rapid tesnya gratis,” ungkapnya.

Emi berpesan kepada masyarakat untuk selalu menerapkan protokol kesehatan dimanapun berada. Dengan kerjasama semua pihak baik tenaga kesehatan, pemerintah, maupun masyarakat, maka pandemi bisa diperangi. Masyarakat yang membutuhkan pelayanan juga diharap jangan takut untuk memeriksakan diri.

“Covid ini benar adanya dan bukan konspirasi. Untuk itu butuh kerjasama semua pihak untuk menerapkan protokol kesehatan disemua tempat. Namun jangan takut untuk datang ke RS, pelayanan bagi pasien umum aman dan tidak terkendala. Masyarakat juga bisa menggunakan antrean online yang kita sediakan, baik via SMS mapun aplikasi,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan