Pelaku UKM Harus Paham SNI dan Manajemen Mutu

TEMANGGUNG, SM Network -Agar produk UKM dari masyarakat memiliki daya saing dalam pasar global di era 4.0 ini, maka para pelaku atau pembuat produk skala masyarakat harus melek SNI hingga paham dengan manajemen mutu, hingga lingkungan. Hal tersebut mengemuka dalam acara Edukasi SNI, Manajemen Mutu, Lingkungan Bagi Pelaku Usaha, di Rumah Kopi Posong, Desa Tlahab, Kecamatan Kledung, Rabu (11/3).

Kepala Disperindagkop dan UMKM Kabupaten Temanggung Rony Nurhastuti mengatakan, sedikitnya 30 pelaku usaha kecil menengah (UKM) mengikuti edukasi yang digelar bersama dengan Disperindag Provinsi Jawa Tengah. Mereka dari berbagai latar belakang usaha, seperti kopi, mainan anak, air minum dalam kemasan, makanan, dan lain-lain.

“Tujuan dari kegiatan ini adalah sosialisasi untuk SNI, manajemen mutu dan lingkungan kepada produk-produk IKM (industri kecil memengah) dan UKM yang harus ber SNI, contohnya kopi, air minum dalam kemasan, mainan anak, dan makanan-makanan tertentu. Harapannya ke depan perijinan-perijinan untuk teman-teman ini bisa komplit, sampai dengan SNI, mutu produksinya bagus, sampai memperhatikan lingkungan,”ujarnya.

Kasi Standarisasi Industri Disperindag Provinsi Jawa Tengah Noor Aziz, menuturkan, sangat penting menerapkan standarisasi industri untuk pelaku IKM dan UKM, terutama di era industri 4.0. Pasalnya, untuk dapat bersaing secara global produknya harus memenuhi berbagai persyaratan mutu, bahkan termasuk manajemen lingkungan. Jika memenuhi syarat maka layak untuk dibeli konsumen baik dari segi mutu hingga keamanannya.

“Ini adalah kegiatan provinsi dalam rangka membangkitkan IKM, kita memfasilitasi agar mereka bangkit dengan produk-produk bermutu dan bisa bersaing baik di internasional maupun nasional. Maka untuk menuju kesana kita beri edukasi, di mana salah satunya yang tidak kalah penting, yakni manajemen lingkungan, misalnya batik nanti membuang limbahnya bagaimana agar tercipta go green,”katanya.

Menurut dia, rata-rata pelaku IKM di Jateng memiliki semangat luar biasa untuk dapat menerapkan syarat-syarat tersebut agar produknya memiliki daya saing global namun tetap peduli lingkungan ditopang dengan manajemen usaha yang profesional. Ditekankan pula bahwa meski menomorsatukan mutu produk namun tidak boleh mengesampingkan hal lain terutama dampak dari pembuatan sebuah produk.

“Standarisasi industri seperti ini sudah kita mulai sejak tahun 2017, terutama di tempat-tempat yang membutuhkan. Contohnya di Pati dari sekitar 100-an pelaku usaha garam untuk konsumsi hampir semuanya sudah ber SNI, tinggal sisa tiga. Kita harapkan nanti di Jawa Tengah akan bangkit semua,”katanya.

Yagi Susetyo Dewi yang memberikan materi tentang persyaratan SNI menjelaskan, jika produk sudah disertifikasi atau telah memenuhi standar berarti secara hukum telah diakui keamanannya. Mulai proses produksi telah memenuhi standar dan tidak melanggar aturan, seperti bagaimana mengolah limbah, cemaran logam dan lain sebagainya. Pihak yang berhak memberikan sertifikat SNI adalah lembaga sertifikasi produk bisa dari swasta maupun pemerintah.

Pemateri lain, Nurfan Murdani menyampaikan materi teknik dokumentasi ISO 9001-2015, di mana para pelaku IKM/UKM harus paham lika liku bisnis mulai dari hal terkecil seperti mencatat setiap apa yang dilakukan dan melakukan setiap apa yang dicatat. Adapun Soegiarti memberikan materi terkait bagaimana proses sertifikasi SNI.


Raditia Yoni A

Tinggalkan Balasan