SM/Asef F Amani - SENI BUDAYA: Wali Kota Magelang, Muchammad Nur Aziz menyampaikan komitmennya pada perkembangan seni dan budaya dalam kesempatan dialog program “Njo Thethek Njo” oleh Komunitas Pinggir Kali di Pendopo Pengabdian.

MAGELANG, SM Network – Pelaku seni dan budaya di Kota Magelang diminta terlibat aktif sebagai penentu arah pembangunan kota. Seniman dan budayawan pun diharap tak segan untuk melontarkan ide kreatif agar Kota Sejuta Bunga tidak kehilangan kebanggaan dan deretan prestasinya.

Hal itu diungkapkan Wali Kota Magelang, Muchammad Nur Aziz saat menjadi pembicara dalam program “Njo Thethek Njo” produksi ke-25 oleh Komunitas Pinggir Kali di Pendopo Pengabdian, Minggu (7/3) malam lalu. Program yang disiarkan langsung di kanal Youtube ini dimoderatori oleh M Nafi.

“Jangan segan untuk menyampaikan ide kreatifnya guna bersama-sama membangun Kota Magelang. Ayo kita terus pertahankan prestasi yang telah diraih, bahkan ke depan perlu terus ditingkatkan,” ujarnya.

Dia menuturkan, pihaknya berkomitmen akan terus mendorong aset-aset budaya yang ada. Ia pun berjanji tidak akan menutup-nutupi kelebihan-kelebihan dari warga masyarakat Kota Tidar.

“Justru akan kita sebarkan kepada seluruh masyarakat bahwa, Kota Magelang ini istimewa, karena saya ingin orang Kota Magelang bangga dengan kotanya,” katanya.

Dokter spesialis penyakit dalam itu menyampaikan beberapa rencana pengembangan seni dan budaya ke depan yang akan dimasukkan ke dalam rencana kerja pemerintah daerah. Salah satunya keinginan untuk merubah fungsi Taman Pancasila menjadi sebuah Theater Terbuka yang gratis untuk umum.

“Jadi, kalau budayawan dan seni budaya berkembang maka banyak orang datang. Kalau di Kota Magelang ada seni yang ditampilkan seperti itu, Insya Allah orang yang mau ke Semarang, atau ke Jogja, tidak hanya lewat, tapi juga mampir disini,” jelasnya.

Dia menyebutkan, untuk melengkapi fungsi kota jasa, beberapa destinasi wisata unggulan seperti kawasan budaya Gunung Tidar, kawasan sejarah Mantyasih, dan museum-museum akan terus dikembangkan. Bahkan, ke depan siap untuk dijadikan satu paket wisata.

“Gelaran festival, pentas seni dan budaya daerah juga siap digelar apabila pandemi Covid-19 berakhir. Biar Kota Magelang ini menjadi kota yang gemah ripah loh jinawi. Banyak orang datang, pasti banyak rejeki datang,” tuturnya.

Dalam acara dialog ini dimeriahkan pula oleh penampilan tari dari Sanggar Adya Gunita pimpinan Agung Tri Cahyo yang menampilkan para penari penyandang disabilitas. Turut hadir sejumlah tokoh seni dan budaya, seperti Oei Hong Djien (Pemilik Galeri Seni OHD), dr Reno, Bagus Priyana, Gepenk Nugroho, dan Mbilung Sarawita.

Menurut wali kota, dialog ini merupakan awal yang baik baginya dan pemerintahan yang kini dinahkodainya untuk membangun semangat perubahan dan kesederajatan (egaliter). Bahkan, dirinya meneladani sikap kepemimpinan Pangeran Diponegoro, seorang pahlawan nasional yang memiliki sejarah erat dengan Kota Magelang.

Menurutnya, kisah penjebakan dan penangkapan Pangeran Diponegoro menunjukkan bahwa pemimpin Perang Jawa ini memiliki harga diri dan marwah seorang pemimpin besar. Untuk diketahui, sebelum ditangkap Sang Pangeran datang ke karesidenan dalam rangka memenuhi undangan.

“Dari situ kita dapat melihat bahwa Pangeran Diponegoro mempunyai nilai yang diturunkan kepada kita semua. Inilah yang akan saya bawa di Kota Magelang bahwa, setiap orang itu mempunyai sebuah marwah, sebuah harga diri. Saya ingin Kota Magelang ini warganya punya harga diri, punya marwah, punya kebebasan dalam berpendapat. Pemimpin itu tidak selalu benar. Pemimpin harus siap dikritik dan siap dikoreksi,” ungkapnya.