Pelaku Kesenian Dan Wedding Organizer Mulai Bisa Berkegiatan

PURWOREJO, SM Network – Akibat terjadinya pandemi Covid-19, dalam waktu empat bulan terakhir pelaku kesenian dan pelaku usaha wedding organizer tidak dapat melaksanakan kegiatan. Dengan diberlakukannya New Habit atau adaptasi kebiasaan baru di Purworejo, saat ini pelaku kesenian dan wedding organizer dapat melaksanakan kegiatan lagi namun dengan penerapan protokol kesehatan yang ketat.

Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Dinparpud) Purworejo, Agung Wibowo, mengatakan bahwa sudah diterbitkan surat edaran terkait tata cara atau standar operasional penylenggaraan kepariwasataan dan seni budaya, termasuk ekonomi kreatif yang berkaitan erat dengan bidang pariwisata dan kebudayaan. Termasuk, kegiatan budaya seperti pernikahan dan kemasyarakatan.

“Dalam waktu empat bulan terakhir, pelaku usaha wedding organizer dan pelaku kesenian tidak bisa berkegiatan seperti ini. Sekarang bisa melaksanakan kegiatan. Namun ada catatan penting, utamanya yang akan menyelenggarakan kegiatan hajatan,” kata Agung Wibowo saat simulasi pernikahan di era new habit di wisata Bukit Sikepel, Selasa (28/7).

Dalam pelaksanaan kegiatan di bidang pariwisata, seni, dan kegiatan budaya seperti pernikahan dan kemasyarakatan, lanjut Agung, harus dilaksanakan dengan ketat menerapkan protokol kesehatan. Disamping itu, wajib sesuai standar operasional dan mengacu keputusan bersama Menteri Pariwisata, Menteri Ekonomi Kreatif, dan Menteri Pendidikan Kebudayaan Nomor 2 Tahun 2020.

“Disarankan dalam kegiatan hajatan tidak bersentuhan fisik. Juga penggunaan mikrofon agar satu mikrofon untuk satu orang atau kalau bergantian disediakan sarung mikrofon,” imbuhnya.

Simulasi tersebut bermula dari gagasan para perias di Purworejo dan diselenggarakan oleh Mutiara Wedding Organizer. Acara dihadiri Wakil Bupati Purworejo, Yuli Hastuti, Kepala Dinparbud Agung Wibowo, Camat Bener Agus Widiyanto, Forkopimcam, dan Ketua TP PKK Heru Kusumo Ardiningsih.

Wabub Yuli Hastuti mengapresiasi pelaksanaan simulasi pernikahan di era new habit tersebut karena dapat menjadikan contoh bagi masyarakat yang akan menggelar hajatan. Utamanya acara pernikahan yang sesuai dengan protokol kesehatan.

Seiring memasuki adaptasi kebiasaan baru, lanjutnya, masyarakat sudah bisa menjalankan kegiatan ekonomi, social, dan keagamaan. Masyarakat boleh mengadakan hajatan, namun diharapkan tidak mengundang tamu terlalu banyak apalagi dari luar daerah. Kewaspadaan untuk pencegahan penyebaran Covid-19 tetap menjadi prioritas, sehingga setiap aktivitas harus tetap menerapkan protokol kesehatan, yakni wajib memakai masker, menjaga jarak antar individu, dan sering cuci tangan pakai sabun.

“Sehingga melalui simulasi ini, diharapkan bisa terlaksana prosesi pernikahan yang sakral namun tetap menerapkan protokol kesehatan. Penerapan protokol kesehatan sangat penting, apalagi setelah adanya penambahan kasus positif baru di Kabupaten Purworejo, setelah sebelumnya sempat berada di zona hijau dalam hal penyebarannya,” imbuhnya.


Panuju Triangga

Tinggalkan Balasan