Pedagang Kecil Dan Pekerja Informal Keluhkan Dampak Wabah Covid-19

PURWOREJO, SM Network – Dampak mewabahnya virus corona (covid-19) sangat dirasakan para pekerja informal dan pedagang kecil di Kabupaten Purworejo, terlebih dengan diberlakukannya social distancing oleh pemerintah untuk mencegah penyebaran penyakit tersebut.

Salah satu pedagang kaki lima (PKL) yang berjualan lotek di Jalan Brigjend Katamso Purworejo, Nur Asiyah (43), mengeluhkan sepinya pembeli. “Adanya wabah virus corona ini pengaruh sekali, apalagi setelah mendengar banyak yang meninggal, jadi sepi pembeli,” ungkap Nur Asiyah, kemarin.

Biasanya dalam sehari ia bisa mendapat Rp 100 ribu, namun sejak seminggu terakhir omzetnya turun drastis. Dalam sehari rata-rata hanya mendapat sekitar Rp 30 ribu hingga Rp 40 ribu. Seringkali dagangannya sisa atau tidak habis terjual sehingga hanya dimakan sendiri bersama keluarga di rumah.

“Tapi masih bertahan dulu, berjualan seminggu ke depan. Kalau tetap sepi ya berhenti dulu, daripada malah rugi dagangan sisa terus, uang tidak muter,” tuturnya.

Nur pun mengaku khawatir jika kondisi ini berlangsung lama. Sebab suaminya hanya bekerja di proyek, sehingga kalau pekerjaan dihentikan dan usaha berjualan loteknya juga merugi otomatis tidak ada penghasilan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari keluarga. “Anak juga masih kecil-kecil, sekolah di TK dan SD,” imbuhnya.

Pekerja informal lainnya, Barno (58) dan Lukman (62), yang menjadi tukang ojek di Terminal Purworejo, mengeluhkan sangat sepi penumpang yang menggunakan jasa ojek. Apalagi jumlah kedatangan bus di terminal juga banyak berkurang.

“Kedatangan bus (AKAP) berkurang banyak, biasanya 60an, sekarang hanya 13 sampai 15 bus. Penumpangnya juga paling cuma 10 sampai 15 orang,” ungkapnya, Kamis (26/3).

Kondisi ini sudah berlangsung sejak dua minggu terakhir. Bila dalam kondisi normal setidaknya dalam sehari bisa narik atau mendapat penumpang ojek dua sampai tiga kali, saat ini lebih sering tidak ada tarikan.

“Saya dari jam enam tadi sampai sore ini belum narik, Pak Lukman baru narik sekali dari tadi malam jam satu. Kalau gak dapat tarikan ya rugi bensin (BBM-red),” ungkap Barno dibenarkan Lukman.

Meski sepi, Barno dan Lukman memilih tetap mangkal di terminal, berharap ada rejeki dari penumpang yang menggunakan jasa ojeknya. “Narik gak narik tetap usaha (mangkal), karena penghasilan kami cuma dari ngojek,” imbuhnya.

Rumiyati (51) pekerja di Agen Tiket Bus PO Sahabat di Terminal Purworejo juga mengeluhkan hal serupa. Dampak wabah corona sudah dirasakan seminggu lebih. “Seminggu ini belum ada satu pun penumpang yang beli tiket, tidak ada yang mau ke Jakarta, Bogor, Sumatra maupun tujuan lain,” ungkapnya.

Mengenai imbauan dari pemerintah agar tetap tinggal di rumah untuk mencegah penyebaran covid-19, Rumiyati mengaku memahami adanya imbauan itu. Namun ia memilih tetap bekerja demi mendapat rezeki untuk keluarga.

“Kalau mengikuti imbauan itu, saya hanya duduk di rumah, suami duduk di rumah, seperti apa nanti. Kalau dikasih makan pemerintah ya nggak apa-apa,” imbuhnya berharap ada bantuan dari pemerintah seperti juga diungkapkan Nur Aisyah, Barno, dan Lukman secara terpisah.

Kepala Dinas Prindustrian dan Tenaga Kerja Purworejo, Gathot Suprapto, mengatakan bahwa kondisi ini terjadi global, tidak hanya di Indonesia tetapi juga di luar negeri. Diakui, kondisi ini berimbas pada banyak hal, termasuk di sektor informal. Meski demikian, menurutnya hingga saat ini kondisi di Purworejo masih stabil.

Terkait bantuan bagi masyarakat yang terdampak di sektor informal, Bupati Purworejo, Agus Bastian menyampaikan Pemkab Purworejo sedang memformulasikan hal itu. “Untuk bantuan bagi yang terdampak, sedang kita formulasikan, insyaaAllah semua dapat kita atasi. Dan kita juga sudah berfikir jauh ketika nanti terjadi lockdown kita sudah menyiapkan solusi yang insyaaAllah Pemkab Purworejo dapat menangani hal itu,” katanya.


Panuju Triangga/Kim

1 Komentar

  1. 220534 597449Sweet internet site, super style and style , genuinely clean and use friendly . 140100

Tinggalkan Balasan