Pasca Lebaran, Harga Bahan Pokok Berangsur Turun

SLEMAN, SM Network – Harga daging ayam di sejumlah pasar tradisional di Kabupaten Sleman masih stabil tinggi. Kendati ada penurunan dibanding pekan terakhir Mei, namun harganya tetap terbilang tinggi rata-rata Rp 37.000/kg. Harga itu hanya selisih tipis dari nilai akhir bulan lalu. Pada pekan kelima Mei, terpantau harga daging ayam berada di kisaran Rp 38.000/kg. Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Sleman Mae Rusmi menuturkan, penurunan harga ini disinyalir karena berkurangnya permintaan masyarakat pasca lebaran. “Ada penurunan harga sekitar 2 persen,” kata Mae, Kamis (11/6).

Penyusutan harga terpantau pula pada beberapa komoditi lain seperti gula pasir, bawang putih, dan bawang merah. Untuk gula pasir, selisih harga sangat tipis yakni 0,93 persen dari sebelumnya Rp 15.400/kg ke level Rp 15.200/kg. Harga ini masih jauh lebih tinggi dari harga eceran tertinggi (HET) yang ditetapkan pemerintah sebesar Rp 12.500/kg. Komoditi bawang putih juga mengalami sedikit penurunan harga dari rata-rata Rp 24.100/kg menjadi Rp 23.800/kg.

Menurut Mae, berkurangnya harga bawang putih disebabkan adanya relaksasi impor produk hortikultura. “Kebijakan relaksasi bertujuan untuk menjaga kuantitas stok dalam negeri. Tapi jika relaksasi masih terus diberikan kepada importir, maka yang terjadi adalah harga akan terus merosot,” ungkapnya.

Karena itu, pihaknya meminta kepada Kementerian Perdagangan untuk mengevaluasi kebijakan tersebut. Bahkan jika perlu, dicabut demi menjaga harga bawang putih di tingkat yang wajar. Adapun komoditi bawang merah, selisih penurunan harganya sekitar tiga persen dari Rp 53.000/kg menjadi Rp 51.000/kg. Musim panen raya yang biasanya berlangsung di akhir Mei diharapkan mampu mengembalikan harga ke tingkat normal.

Selain tiba masa panen, menurunnya jumlah permintaan usai momentum Idul Fitri juga turut memberikan andil. Sementara itu pantauan komoditi cabai, harganya fluktuatif. Cabai rawit merah dan keriting merah mengalami sedikit kenaikan, sedangkan cabai jenis merah besar dan rawit hijau menunjukkan penurunan harga. “Mulai menggeliatnya aktivitas perekonomian masyarakat menjelang new normal memberi andil terhadap fluktuasi harga cabai. Kendati pergerakannya berbeda-beda, dan belum menemukan titik keseimbangan harganya,” terang Mae.


Amelia Hapsari

Tinggalkan Balasan