Pasca Insiden, Enam Siswi SMPN 1 Turi Alami Gejala Trauma

SLEMAN, SM Network – Sempat diliburkan selama satu hari pasca insiden susur sungai, aktivitas belajar di SMPN 1 Turi Sleman, Senin (24/2) sudah kembali berlangsung. Untuk kelas 9, kegiatan belajar mengajar sudah berjalan normal. Namun khusus kelas 7 dan 8, masih diberi materi untuk pemulihan kondisi psikologis siswa.

“Sampai kapan masa pemulihannya, dilihat dulu nanti, situasional. Untuk posko, sementara dibuka sampai tujuh hari ke depan,” kata koordinator pelaksana tim pendampingan psikologi, Oneng Nawaningrum ditemui di SMPN 1 Turi, Senin (24/2).

Selain siswa, pendampingan juga diberikan kepada orang tua murid, dan guru. Posko 24 jam dibuka sejak Jumat (21/2) lalu di Puskesmas Turi, dan SMPN 1 Turi. Tim melibatkan psikolog dari sejumlah universitas, dan relawan. Disamping itu dilakukan kunjungan ke rumah beberapa siswa. Sejauh ini sudah sekitar 20 keluarga yang dikunjungi oleh tim psikolog.  “Pendampingan tidak hanya diberikan untuk korban tapi juga teman-teman dekat mereka,” ujarnya.

Pada Senin (24/2), tim melakukan pemeriksaan awal terhadap siswa untuk mendata ada tidaknya symtom atau gejala gangguan psikis. Hasilnya terdapat enam siswi yang mengalami symtom dan telah ditangani oleh psikolog, dan tim medis.

Ketua Ikatan Psikologi Klinis DIY Siti Urbayatun menjelaskan, gejala orang yang mengalami masalah psikologis dapat dilihat dari beberapa tanda. Tanda secara psikis antara lain muncul rasa cemas, sedih, dan marah. Gejala fisik, salah satunya mengalami mual. Jika tidak segera ditangani, dikhawatirkan akan menjadi gejala berat.

“Enam siswa yang mengalami symtom menunjukkan beberapa perilaku seperti menangis dan histeris. Tapi belum dikatakan sebagai gangguan. Itu adalah reaksi yang wajar ketika menghadapi masalah,” bebernya. 

Dari enam siswi yang dideteksi symtom, empat diantaranya masih menjalani pendampingan di posko sedangkan dua anak lainnya sudah kembali ke kelas masing-masing. Di kelas, para siswa kembali diberi pemulihan. Bentuk kegiatannya antara lain stabilisasi emosi, dan terapi. Masing-masing kelas ada tiga psikolog, dan 10 relawan. Adapun total jumlah relawan yang dikerahkan sebanyak 80 orang, sedangkan psikolog 40 orang.

“Semua siswa dipantau kondisinya. Dilakukan assesment untuk melihat apakah ada siswa yang butuh pendampingan lebih. Bagaimana metodenya, tergantung situasi kelas masing-masing,” terang Siti.

Sementara itu, pantauan kondisi di sekolah, pada pukul 07.00 WIB dilaksanakan shalat gaib yang diikuti guru dan siswa muslim. Adapun siswa nonmuslim, melaksanakan doa bersama atas musibah yang menimpa sekolah mereka


(Amelia Hapsari/CN26/SM Network)

2 Komentar

  1. 21507 23950This design is incredible! You surely know how to maintain a reader amused. Between your wit and your videos, I was almost moved to start my own blog (well, almostHaHa!) Great job. I truly loved what you had to say, and more than that, how you presented it. Too cool! 787131

  2. 36864 404085Wohh just what I was looking for, appreciate it for putting up. 269138

Tinggalkan Balasan