Pangeran Diponegoro Berdoa di Musola Ini Sebelum Berunding Dengan Belanda

MUNGKID, SM Network – Masjid Langgar Agung, yang berada di Dusun Kamal, Desa Menoreh, Kecamatan Salaman memiliki sejarah tersendiri meski memiliki ukuran yang tidak terlalu besar dan tidak banyak diketahui oleh khalayak umum.

Tempat ibadah yang berada di komplek MA/MTs Diponegoro ini dulunya dinamanakan Langgar Agung. Dinamakan langgar karena ukurannya yang kecil. Sejak bangunanya diperbesar karena jumlah jamaah yang terus bertambah, tempat ini dinamakan Masjid Langgar Agung.

“Sebenarnya yang asli peninggalan Pangeran Diponegoro itu tempat pengimaman shalat, dulunya digunakan sebagai tempat mujadahan Pangeran Diponegoro,” terang Ahmad Duwi Najah selaku Takmir Masjid Langgar Agung, Senin (20/01/2020).

SM/Dian Nurlita
PENGIMAMAN: Takpak dalam masjid yang dahulunya dijadikan tempat pengimaman Pangeran Diponegoro

Peninggalan asli Pangeran Diponegoro ini bukan masjid melainkan tempat pengimamannya. Tapi yang terkenal di masyarakat itu masjid ini peninggalan Pangeran Diponegoro, padahal sebenarnya bukan, terang Najah. Lokasi sekitar Masjid dulunya merupakan hutan belantara. Menurut sesepuh pengurus masjid, saat itu Pangeran Diponegoro akan berangkat berunding dengan pihak Belanda di Magelang.

“Ketika pasukan Diponegoro hendak melaksanakan salat, dibuatlah tatanan batu untuk alas salat, atau Langgar. Hal itu menjadi awal mula bangunan tersebut berdiri dan menjadi bagian dari sejarah perjuangan Pangeran Diponegoro,” ujar Najah.

Dalam perkembangannya, sekitar tahun 1960-an, atas prakarsa Jenderal Sarwo Edi Wibowo dimulailah pembuatan pondasi masjid, dengan letak pengimaman berada di atas tatanan batu alas salat itu.

SM/Dian Nurlita
PENUNJUK WAKTU SHALAT: Alat sederhana sebagai penunjuk waktu shalat atau yang lebih dikenal dengan jam matahari

Tahun 1972 pembangunan Masjid selesai dilakukan dan kemudian disematkan nama Masjid Langgar Agung. Sampai saat ini Masjid Langgar Agung masih dimanfaatkan warga, termasuk peringatan Haul atau peringatan hari wafat Pangeran Diponegoro yang diperingati setiap 8 Januari. Selain itu ada juga peninggalan Al-Quran yang ditulis tangan oleh Pangeran Diponegoro.

“Kalo untuk Al-Quran sendiri menurut sesepuh sini bener-benar tulisan tangan Pangeran Diponegoro, tapi tidak sembarang orang bisa melihat dan harus ada persyaratan khusus,” jelasnya.

Selain itu ada hal unik dari masjid tersebut, yaitu untuk menentukan waktu sholat menggunakan jam matahari. Kini Masjid Langgar Agung ramai dingunakan masyarakat, dan siswa-siswi sekitar untuk melaksanakan ibadah.

Dian Nurlita

7 Komentar

  1. Like!! I blog frequently and I really thank you for your content. The article has truly peaked my interest.

  2. Hi there, after reading this amazing paragraph i am as well delighted to share my knowledge here with friends.

  3. 993990 287978Hello! I merely would like to give a huge thumbs up for the fantastic info youve here on this post. I may be coming back to your weblog for a lot more soon. 267766

  4. 808403 938260you are in point of fact a excellent webmaster. The site loading velocity is wonderful. It seems that you are performing any distinctive trick. In addition, The contents are masterpiece. youve done a fantastic activity on this subject! 172750

Tinggalkan Balasan