SM/Asef F Amani - RSDU Tidar, rumah sakit rujukan pasien Covid-19 di Kota Magelang.

MAGELANG, SM Network – Meski terkendala pandemi Covid-19 selama hampir 10 bulan, pendapatan asli daerah (PAD) Kota Magelang tahun 2020 mampu melebihi target. Realisasi PAD tahun 2020 sebesar 120,91 persen, yakni Rp 290.689.431.646 dari target Rp 240.421.207.000.

Sekretaris Badan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah (BPKAD) Kota Magelang, Nanang Kristiyono mengatakan, lain-lain pendapatan yang sah menjadi penyumbang terbanyak sebesar Rp 240.208.419.075 atau mencapai 122,34 persen dari target Rp 196.338.413.000. 

Lalu, pendapatan pajak daerah Rp 35.958.686.531 atau terealisasi 118,64 persen dari target Rp 30.308.000.000. Sementara, pendapatan hasil pengolahan kekayaan daerah yang dipisahkan mendapat Rp 9.217.035.218, terealisasi 99,21 persen dari target Rp 9.290.216.000. 

Selanjutnya, pendapatan retribusi daerah tercapai sebesar Rp 5.305.290.822 atau 118,3 persen dari target Rp 4.484.578.000. Secara global PAD dari rincian itu dapat diraih 120,91 persen dari target. 
“Meskipun ada yang tidak sesuai target karena kurang 0,7 persen untuk pendapatan hasil pengolahan kekayaan daerah yang dipisahkan, tapi secara umum naik signifikan,” ujarnya.

Ia menuturkan, meski di tengah pandemi Covid-19 yang membuat daerah-daerah lainnya terdampak penurunan PAD, namun Kota Magelang tetap berhasil mempertahankan tren positif ini. Selama 6 tahun terakhir, PAD Kota Magelang terus mengalami kenaikan. 

Berdasarkan data BPKAD, PAD tahun 2019 mencapai Rp 262.180.829.382. Angka ini meningkat dari PAD sebelumnya di tahun 2018 sebesar Rp 247.964.020.565. Kemudian Rp 233.557.714.356 di tahun 2017, Rp 220.315.848.702 di tahun 2016, dan Rp 186.677.410.081 di tahun 2015. 

“Setiap tahun berbagai upaya strategi dan kebijakan terus kita tempuh dalam rangka meningkatkan PAD ini. Tak heran jika PAD kita terus meningkat. Perolehan ini semata-mata digunakan demi peningkatan kesejahteraan masyarakat Kota Magelang,” ungkap Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Magelang, Joko Budiyono secara terpisah.

Dia menyebutkan, hasil capaian 120,91 persen dari target PAD tahun 2020 tidak terlepas dari sejumlah pemasukan. Antara lain pajak daerah, hasil pengelolaan kekayaan daerah yang dipisahkan, retribusi daerah, dan lain-lain PAD yang sah. 

“Kita tidak punya sumber daya alam (SDA), namun Kota Magelang mampu konsisten menaikkan PAD selama lima tahun terakhir. Ini membuktikan jika kebijakan yang ditempuh sudah sesuai jalur,” tandasnya.

Joko pun meminta jajaran perusahaan daerah (Perusda), Badan Usaha Milik Daerah (BUMD), Badan Usaha Layanan Daerah (BLUD), dan sektor lainnya, untuk senantiasa mengikuti tren kenaikan ini. Caranya dengan meningkatkan fungsi pelayanan secara optimal. 

“PAD dari Perusda jumlahnya lumayan besar. Namun pemerintahan tidak mencari keuntungan dari PAD ini, melainkan semata demi kesejahteraan masyarakat yang kian meningkat. Jadi yang harus dibenahi, selain mencapai target, pelayanan kepada masyarakat tidak boleh dikesampingkan,” jelasnya.

Kepala BPKAD Kota Magelang, Wawan Setiadi menambahkan, keberhasilan capaian PAD ini tidak lepas dari kesadaran masyarakat dalam membayar pajak. Sebagai contoh, realisasi penerimaan Pajak Bumi Bangunan Perkotaan dan Pedesaan (PBB-P2) juga meningkat setiap tahun. 

Menurutnya, faktor tingginya kesadaran warga ini juga dipengaruhi ketersediaan fasilitas juga kebijakan yang ditempuh. Ia mencontohkan, masyarakat sekarang sangat dimudahkan dalam membayar pajak. BPKAD bahkan menyediakan fasilitas pembayaran berbasis digital atau web service.

“Fasilitas ini memudahkan masyarakat sebagai wajib pajak dalam melakukan transaksi pembayaran secara efektif, efisien, dan transparan. Sangat cocok juga karena tahun kemarin kita dilanda pandemi, tetapi warga tetap bisa membayar pajak secara online,” ungkapnya.