Pabrikan Didesak Beli Tembakau Petani Sampai Habis

Harga dan Penyerapan Rendah

TEMANGGUNG, SM Network – Masih rendahnya penjualan dan serapan tembakau oleh pabrikan terus dikeluhkan petani. Untuk itu, Pemkab Temanggung terus bergerak melakukan upaya pendekatan dan mendesak pihak industri rokok agar segera membeli tembakau petani Temanggung sampai habis dengan harga layak sesuai kualitas.

Bupati Muhammad Al Khadziq dan Wakil Bupati Hery Ibnu Wibowo pun kembali turun ke gudang-gudang pabrikan rokok besar seperti perwakilan PT Gudang Garam dan PT Djarum. Keduanya meminta agar pembelian tembakau asli Temanggung oleh pabrikan dipercepat penyerapannya.

“Sampai saat ini hasil panen masih banyak menumpuk di petani, pengepul, dan pedagang karena arus pembelian oleh pabrikan masih belum optimal. selain itu, tidak berimbang dengan volume hasil panen. Maka kami minta perwakilan pabrik untuk mempercepat penyerapan atau pembelian tembakau asli Temanggung,”ujarnya kemarin.

Bupati meminta kepada pabrik agar sama-sama memahami kesulitan yang sedang dihadapi oleh masyarakat pertembakauan, di mana ekonomi sedang sulit dan cuaca di awal masa panen kurang baik. Dalam hal ini pabrik jangan terlalu ketat dalam menentukan grade tembakau, supaya tembakau dapat terserap habis. Perwakilan PT Gudang Garam di Temanggung Tjin Tjong Giong menuturkan, bahwa pihaknya tetap akan melakukan pembelian.

Namun yang dibeli adalah tembakau asli Temanggung. Hal tersebut sesuai standar yang telah ditentukan untuk menjaga kualitas disetiap batang rokok. Secara khusus Hadik juga telah beromunikasi dengan pihak pabrikan, baik PT Gudang Garam maupun PT Djarum melalui sambungan telepon. Kepada Direktur Pembelian PT Djarum Sutanto, dia menanyakan kenapa pembelian dari PT Djarum “seret” (lambat). Dari pengamatannya di lapangan banyak tembakau menumpuk di grader karena penyerapan ke mess PT Djarum lambat.

“Kenapa penyerapan dari Djarum seret ? Sekarang tembakau banyak menumpuk di grader maka harga menjadi jatuh. Padahal kalau soal ekonomi, soal perut bagi petani sulit untuk terus bersabar,”katanya.

Direktur Pembelian PT Djarum Sutanto, mengatakan, pihaknya memang menerapkan kehati-hatian dalam pembelian ini, dengan beberapa alasan. Pertama untuk mempertahankan kualitas, kedua di masa pandemi Covid-19 ini harus hati-hati. Diakuinya grade tidak untuk menentukan harga dan hanya dijadikan patokan tidak untuk menentukan harga dan saat ini sudah mulai masuk grade D.

“Harga grade D bisa Rp 70.000 atau Rp 80.000, tapi yang kurang baik Rp 60.000 (per kilogram). Saya ngerti sekali, pasti kita beli banyak tapi syaratnya yang asli yang baik, kita juga berpatokan kepada petani kemitraan, minggu ini standarnya kita ambil, karena menurut kemitraan kita sudah saatnya daun diproses dirajang. Jangan khawatir kita pasti akan beli sampai habis, sabar-sabar yang penting petani fokus ngerjain tembakau dan kita juga hati-hati jangan sampai ada yang kena Covid,”katanya.

Direktur Umum PT Gudang Garam Kediri, Susanto menuturkan, dampak pandemi Covid-19 membuat hampir semua perusahaan mengalami kesulitan. Namun dia menyangkal jika ada anggapan kelambatan penyerapan, tapi diakui jika memang pada musim panen raya tahun 2020 ada penurunan kuota sebab penjualan rokok juga menurun.

“Mungkin nanti saya bisa memberi masukan kepada perwakilan di Temanggung, supaya mungkin bisa dipercepat atau ada langkah-langkah lain. Semua kondisinya memang serba sulit, kami perusahaan mengandalkan dari jualan rokok sedangkan daya beli masyarakat sekarang rendah,”terangnya.

Sekretaris Asosiasi Petani Tembakau Indonesia (APTI) Kabupaten Temanggung, Yamuhadi mengatakan, sampai saat ini penjualan memang terasa lambat. Soal harga yang hanya dikisaran Rp 50.000-Rp 60.000 per kilogram sangat dikeluhkan petani karena belum bisa menutup biaya tanam.

“Maka jika dua pabrikan besar, yakni PT Djarum dan PT Gudang Garam membeli dengan baik maka harga akan terkerek naik. Kita lihat Djrum sangat berhati-hati dalam melakukan pembelian sehingga petani kesulitan masuk. Memang di sana ada kemitraan tapi tolong yang bukan juga diakomodir,”pintanya.

Tinggalkan Balasan