Olah Kopi Kedunggong, Distanbun Jateng Dorong Pendirian BUM Petani

KEBUMEN, SM Network – Pengolahan kopi Kedunggong di Desa Kedunggong Kecamatan Sadang, Kebumen mendapat dukungan dari Dinas Pertanian dan Perkebunan (Distanbun) Jateng.

Bahkan Kepala Distanbun Jateng, Suryo Banendro mendorong pendirian Badan Usaha Milik Petani (BUM Petani). Hal itu disampaikan Suryo saat mengunjungi Desa Kedunggong baru-baru ini.

Suryo yang didampingi Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (Distapang) Tri Haryono serta Camat Sadang Tjahjo Sambodo juga menyaksikan penyerahan bantuan bibit kopi Kedunggong kepada perwakilan sejumlah desa. Antara lain Desa Giritirto, Kecamatan Karanggayam yang dikenal dengan produk Kopi Gemplong.

“Ini tentu saling mendukung satu sama lain. Sehingga ke depan perlu adanya Badan Usaha Milik Petani,” ucap Suryo.

Sementara desa lain membutuhkan bibit kopi Kedunggong, Desa Kedunggong bisa mengengolahnya. Suryo pun optimistis terhadap potensi Kedunggong bisa lebih unggul dari wilayah lain yang lebih dulu mengolah kopi.

Dalam kunjungan Suryo yang diisi sambung rasa dengan petani setempat pun mengemuka mengenai potensi kopi Kedunggong yang mirip Arabika. Salah satu pegiat tani Kedunggong, Slamet juga mengemukakan banyaknya potensi yang belum digarap lebih lanjut.

Seperti bibit kopi yang masih dianggap semak oleh sebagian masyarakat. Acapkali, tanaman kopi yang tumbuh subur itu dibabat habis layaknya semak yang mengganggu. Padahal, di wilayah lain membutuhkan. Sehingga Slamet berinisiatif untuk membantu bibit kopi. Seperti yang dilakukannya dalam kesempatan tersebut.

“Kami telah memberikan bantuan bibit kopi sebanyak 2021 ke Desa Goritirto pada 1 Januari 2021. Selanjutnya pada tanggal 13 Januari sebanyak 10 ribu bibit kopi,” terang Slamet.

Desa lainnya yang akan menyusul yakni Kajoran. Sekdes Kajoran Kecamatan Karanggayam, Suratman menyempatkan untuk studi banding di Desa Kedunggong. Juga desa lainnya di wilayah Utara yang dikenal dengan Urut Petai.

Dari mulai Sempor hingga Padureso. Tidak terkecuali wilayah Selatan yang dikenal dengan Urut Sewu. Mengingat, bibit kopi yang tersedia melimpah di Kedunggong itu bisa ditanam di berbagai wilayah di Kebumen.

Dengan adanya bantuan bibit kopi tersebut, lanjut Slamet, baik langsung maupun tidak langsung turut membantu pemerintah. Ia pun menyarankan agar alokasi dana yang digunakan pemerintah untuk pembelian bibit kopi, dialihkan pada biaya perawatan.

“Kalau bibitnya kan cuma sekali saja, sedangkan perawatannya berkali-kali, sehingga butuh biaya cukup banyak,” imbuhnya.

Lebih lanjut, kunjungan dari Distanbun Jateng itu dapat ditindaklanjuti pihak terkait. Terutama petani Desa Kedunggong. Selain mengembangkan kopi agar diolah sebagai nilai tambah, juga mulai mengubah kebiasaan petik hijau menjadi merah. Sehingga kesejahteraan petani meningkat dan ikut memberi sumbangsih terhadap pengurangan kemiskinan di Kebumen.

Tinggalkan Balasan