SM/Dian Nurlita - VIEW: Pemandangan yang bisa dinikmati jika dilihat dari sisi barat Dusun Butuh.

MUNGKID, SM Network – Sejak pemberlakuan new normal dan pembatasan oleh pemerintah, banyak tempat wisata lokal yang menarik perhatian masyarakat. Salah satunya Nepal Van Java yang berada di Dusun Butuh, Kecamatan Kaliangkrik, Kabupaten Magelang.

Di tempat ini pengunjung yang datang disuguhkan pemandangan alam yang sangat indah, bila kabut tidak turun pengunjung bisa melihat secara langsung gunung Sumbing dari dekat juga bangunan rumah warga yang memiliki nuansa di negara Nepal.

SM/Dian Nurlita – VIEW: Pemandangan yang bisa dinikmati jika dilihat dari sisi barat Dusun Butuh.

Kepala Dusun Butuh, Lilik Setiyawan, mengatakan Nepal Van Java sendiri viral semenjak diberlakukannya new normal atau relaksasi oleh pemerintah terkait pandemi Covid-19. Rata-rata kunjungan bisa mencapai 2500 pengunjung setiap minggu.
“Kita hitungnya mingguan. Dalam satu minggu itu kira-kira ada sekitar 2000 sampai 2500 pengunjung. Paling ramai itu saat weekend. Jalan padat, mobil-mobil sampai tidak bisa lewat di sepanjang jalan gapura Dusun Butuh,” jelas Lilik saat diwawancarai, Sabtu (5/8).

Semenjak viralnya objek wisata ini, Lilik mengaku belum ada penutupan. “Jadi belum ada penutupan, wisata ini juga munculnya tiba-tiba. Karena banyak kunjungan otomatis harus menyesuaikan, jadi sementara ini belum ada penutupan. Kalau pendakian selama pandemi, tutup empat bulan,” paparnya.

Untuk istilah Nepal van Java sendiri sudah muncul sejak satu tahun yang lalu. Nama itu muncul pada bulan Juni 2019, yang diberi oleh salah satu teman media kita. “Tambah ramai lagi itu dari pendaki yang mengambil gambar menggunakan drone. Apalagi setelah banyak kunjungan dan postingan akun-akun wisata yang menggunggah keindahan dari Nepal Van Java ini. Udah situasi menjadi tidak karuan dan membludak,” imbuh Lilik.

Terkait pembatasan pengunjung belum ada arahan seperti itu. Sedangkan untuk pendakian memang pihaknya menerapkan banyak sekali aturan dan pembatasan. “Untuk pembatasan kunjungan belum ada. Adik-adik karang taruna yang mengelola wisata ini juga kesusahan. Sehingga jelas tidak mungkin diatur atau dihimbau karena banyak yang gak tahu juga karena dari ajakan-ajakan,” paparnya.

Misal dibatasi menjadi 500 itu susah, lanjut Lilik, nanti arahnya saya sampaikan kepada pengelola atau karang taruna. Mungkin akan saya berlakukan dalam satu minggu ada waktu liburnya juga. “Agar aktivitas warga yang selama ini sudah berjalan bisa leluasa. Karena di satu sisi mereka yang bertani agak terganggu aktivitas bertaninya,” kata Lilik.

Melihat dari animo masyarakat yang berkunjung, juga memberikan dampak positif bagi warga setempat. “Jelas bagi mereka yang bisa memanfaatkan peluang yang ada, membawa keuntungan tersendiri. Misal dari warga yang berjualan paket sayur, membuka warkop-warkop dadakan dengan memanfaatkan atas atap rumah mereka. Selain itu bagi kendaraan yang tidak bisa naik, banyak warga yang menyediakan jasa ojek,” jelasnya.

Kendala jelas yang terlihat saat memasuki Dusun Butuh sendiri itu adalah kurangnya tempat parkir. Karena Dusun Butuh tidak memiliki tempat parkir khusus yang selama ini mobil warga pun tidak bisa masuk kampung. Biasanya disimpan di sekitaran gapura dan pendopo dusun yakni di bahu jalan. Apalagi ditambah banyaknya kunjungan yang datang.
Sementara untuk penataan dusun selama ini dilakukan secara mandiri yakni swadaya masyarakat. “Kami menggunakan kas yang ada, termasuk mau membuat apa kita juga ada sponsor. Paling kalau bantuan pemerintah itu melalui dana desa, untuk sarana prasarana umum,” kata Lilik.

Ia berharap agar kedepan pemerintah bisa lebih memerhatikan. “Kami berharap dukungan pemerintah adalab apa yang bisa kami kembangkan sebagai potensi wisata. Selain itu ada beberapa sponsor yang sudah menghubungi saya. Beberapa sudah bekerja sama,” imbuhnya.

Untuk titik spot sendiri Lilik menyebutkan beberapa titik. Yakni yang membuat viral dusun ini adalah teras Nepal pas ditikungan awal masuk Dusun Butuh. “Terus ada taman Depok untuk spot selfie dan spot santai. Dan halaman masjid yang selama ini menjadi kunjungan di situ. Dan nanti ini kita mau menambah beberapa titik spot foto yang lain di sebelah barat sampai ke atas, agar pengunjung tidak menumpuk di satu titik saja,” ujar Lilik.

1 KOMENTAR