ilustrasi foto : Google/images/kekayaan indonesia

Berbagai persoalan yang menghimpit bangsa ini, bila diambil benang merahnya, akar masalahnya tidak akan pernah keluar dari karakter dan budi pekerti. Bagaimana rakyat biasa tidak akan ikut-ikutan lemah karakter dan budi pekertinya, sebab detik demi detik para elite partai politik, para manusia yang ditunjuk duduk di kursi pemerintahan, hingga pemimpin bangsa di Republik ini, hanya gemar unjuk kekuatan diri, partai, dan golongannya. 

Unjuk kekuatan tersebut terus mengalir bak air bah dan pusaran masalah yang dialirkan pun hanya berkutat pada persoalan jabatan/kursi dan uang. Sebab, hampir semua kalangan yang terjun ke dunia politik, ujungnya yang dikejar memang uang. 

Untuk mendapatkan uang, maka harus mendapatkan kedudukan dan jabatan. Nah, cara mendapatkan kedudukan dan jabatan inilah yang semakin mempertontonkan drama lemahnya karakter dan budi pekerti manusia-manusia terdidik Indonesia yang kini lebih banyak menguasai jabatan untuk mewakili dan memimpin rakyat. Miris. 

Setali tiga uang, di luar lemahnya karakter dan budi pekerti para pemimpin dan elite partai itu, orang-orang kaya atau merasa kaya atau orang-orang kaya baru di Indonesia, juga hanya gemar mementingkan diri dan keluarganya sendiri, tak peduli dengan orang lain. 

Maka, kita tentu sering mendengar perkataan tentang “kaya harta, tetapi miskin hati” untuk julukan mereka. Sebaliknya muncul juga perkatan “miskin harta, tetapi kaya hati.” sebagai lawan dari sikap orang-orang kaya yang berbeda dengan sikap orang miskin. 

Bahkan sudah bukan rahasia lagi di kehidupan masyarakat Indonesia, di dalam sebuah kelompok/perkumpulan/organisasi khususnya yang bergerak dalam masalah sosial, para pengurus yang bergerak dan terjun di lapangan, selalu berhadapan dengan panas hujan roda kegiatan, maka dapat dipastikan, tentu tidak akan ada golongan pengurus yang “dikatakan kaya”. 

Mereka hanya peduli dengan namanya yang tercantum dalam susunan pengurus, namun susah peduli untuk turut serta hadir di lapangan langsung bergelut dengan kegiatan utama kelompok/perkumpulan/organisasi tersebut. 

Mereka hanya memikirkan nama baik dirinya sendiri. Begitu kelompok/perkumpulan/organisasi berprestasi, maka tidak akan ketinggalan bahwa dirinya adalah pengurus. Sebaliknya, bila ada masalah, mereka-mereka ini nanti tinggal memberi penilaian dan sering pula menyalahkan bila terjadi sesuatu yang tidak berjalan sesuai relnya, padahal dirinya hadir pun tidak, menyumbang materi pun tidak.

Maka, sering pula kita mendengar, nama sebagai pengurus ada, namun tidak pernah hadir dalam roda kegiatan. Harapan agar mereka juga menjadi penyumbang materiil untuk kelompok/ perkumpulan/organisasi hanyalah tinggal harapan. Jangankan dukungan materiil, dukungan moril pun mahal.  Mengapa kepedulian orang-orang kaya atau yang merasa kaya terhadap orang lain kurang, dan mereka lebih peduli kepada diri dan keluarganya sendiri? 

Barangkali persoalan tersebut dapat dijawab secara ilmiah, melalui studi yang telah terpublikasi di beberapa media nasional (17/9/2017).  Meski studi sudah berlangsung tiga tahun lalu, nampaknya hasilnya, masih relevan dengan kondisi sikap orang kaya atau yang merasa kaya hingga kini. Studi tersebut dilansir dari Jurnal Psychology Science yang dipublikasikan di New York University (NYU). 

Hasilnya, menunjukkan bahwa orang yang kaya dan mengalami kemakmuran, secara tidak sadar menjadi kurang memperhatikan sesamanya. Sesuai laporan dalam jurnal tersebut, para peneliti menjabarkan ekperimen untuk mengukur efek dari kelas sosial pada kehidupan seseorang. 

Menurut beberapa sekolah tinggi psikologi, manusia termotivasi untuk memperhatikan sesuatu yang memberikan nilai bagi dirinya. Atas dasar tesis tersebut, maka tim NYU membuat sebuah kelompok yang terdiri atas 61 partisipan. Mereka kemudian diminta untuk berjalan menyusuri blok demi blok di kota Manhattan seraya mengenakan Google Glass. Sebelumnya mereka diminta untuk mengidentifikasi kelas sosial mereka terlebih dahulu. 

Para pejalan kaki yang ada di situ kemudian diberikan penjelasan bahwa mereka sedang melakukan pengujian teknologi. Setelah proses berjalan menyusuri kota selesai, melalui Google Glass, para peneliti menemukan bahwa mereka yang mengidentifikasi dirinya sebagai kalangan kelas sosial atas sama sekali tidak memperhatikan orang-orang yang ada di jalanan. 

Berbanding terbalik dengan mereka yang menyatakan diri berada di kelas sosial yang lebih rendah. Luar biasa, ternyata hanya dalam satu pengujian, didapati hasil ilmiah yang dapat membuktikan bagaimana karakter dan budi pekerti orang-orang yang merasa memiliki kelas sosial  menengah atas atau orang kaya atau merasa kaya. 

Tidak cukup dengan satu model penelitian tersebut, lalu tim NYU juga melakukan penelitian serupa dengan menggunakan sistem eye tracking yang canggih. Pada penelitian ini, giliran pelajar yang menjadi partisipannya. Mereka diminta untuk melihat serangkaian foto yang diambil melalui Google Street View di komputer. Dan lagi-lagi, peneliti menemukan bahwa siswa yang mengidentitifikasi dirinya sebagai orang kaya alias kelas sosial atas menghabiskan sedikit waktu untuk melihat manusia yang tampak di foto. 

Dalam eksperimen terpisah, peneliti NYU kemudian menguji kembali partisipan dengan mengukur berapa lama ia tahan untuk melihat atau memperhatikan orang lain. Mereka merekrut sekitar 400 peserta secara online. Kemudian ia diminta untuk melihat berbagai gambar benda, yang rata-rata di dalamnya adalah wajah orang, buah-buahan, dan peralatan. Satu gambar akan muncul sebentar di layar kemudian digantikan dengan gambar kedua yang mirip bahkan identik dengan gambar sebelumnya. Dua gambar itu akan terus berkedip bergantian sampai peserta meng-klik spasi untuk membuat gambar itu berhenti dan peserta bisa mengidentifikasi apakah ada perubahan atau tidak pada gambar tersebut. 

Orang yang mengidentifikasi dirinya sebagai orang yang tidak terlalu kaya secara signifikan lebih cepat ketimbang mereka yang dari kelas sosial yang lebih tinggi untuk melihat perubahan pada gambar wajah. Itu berarti, kata peneliti, perubahan wajah seseorang menjadi concern bagi mereka. 

Hasil dari ketiga pengujian tersebut, ternyata didapati bahwa orang yang berada di kelas sosial rendah lebih memperhatikan orang lain ketimbang mereka yang berada di kelas sosial yang lebih tinggi, ungkap Pia Dietze, pemimpin penelitian dari NYU. 

Kemudian dalam peneltian lain, sebuah studi yang diterbitkan dalam Psychological Sciences, psikolog University of California, San Francisco menemukan bahwa orang dari status sosial ekonomi yang lebih tinggi tidak mahir membaca emosi orang lain secara akurat, dibandingkan dengan rekan-rekan yang kurang makmur. 

Terlebih lagi, dalam sebuah studi yang telah dilakukan pada tahun 2009 itu, hasilnya menunjukkan bahwa mahasiswa dari status sosial ekonomi yang lebih tinggi cenderung kurang memperhatikan orang asing yang baru pertama kali mereka temui bahkan ketika mereka sama-sama orang kaya. Salah satu alasan orang kaya mungkin kurang peduli dengan orang lain adalah karena mereka mampu untuk menyewa atau membayar bantuan lain untuk melayani kebutuhan mereka (seperti perawatan anak dan perbaikan rumah) daripada bergantung pada tetangga, menurut Dacher Keltner, seorang profesor psikologi di University of California, Berkeley. Bisa dibilang ada kesenjangan empati di sini. 

Dari hasil penelitian-penelitian tersebut, dikaitkan dengan kondisi orang kaya atau yang merasa kaya khususnya di Indonesia, memang cukup signifikan, terlebih, Indonesia yang baru merdeka dan berkembang dalam puluhan tahun di bandingkan dengan penelitian di negara maju yang usianya sudah ratusan tahun, maka banyaknya orang Indonesia yang baru kaya, memang lebih terlihat mementingkan diri sendiri jauh dari kehidupan sosial, harta benda dikekepi seperti mau di bawa mati.  Makanya ada ungkapan kaya harta miskin hati dan ada ungkapan miskin harta kaya hati. 

Atas kondisi ini, banyak pula yang mencoba mencari tahu, mengapa sikap mereka menjadi kurang atau bahkan tak peduli pada orang lain dan lingkungan. Ada yang beranggapan karena karakternya terbentuk turun temurun dari keluarganya. Ada yang berpikiran, mereka jauh dari kehidupan agama. Juga ada yang berprasangka bahwa sikap tak peduli mereka karena pengaruh lingkungannya. 

Namun ironisnya, banyak orang kaya atau merasa kaya yang bersikap seperti demikian, faktanya adalah orang-orang yang berpendidikan, orang-orang yang mengerti agama dan rajin beribadah, meski banyak yang tak bergaul dengan masyarkat lingkungannya. 

Yang lebih memiriskan hati, kini di berbagai saluran televisi, manusia-manusia Indonesia yang kebetulan berkesempatan menjadi artis/selebriti, malah tidak malu unjuk kekayaan.  Dalam tayangan-tayangan tentang unjuk kekayaan itu, mereka begitu tak peduli dengan perasaan seluruh rakyat bangsa ini, yang hidupnya masih banyak di bawah garis kemiskinan. Masih berpikir hari ini bisa makan atau tidak apalagi hari esok. 

Sementara para artis ini, malah pamer kemewahan, makan di mana, makan apa, rumahnya seperti apa, kamarnya seperti apa, isi dompet dan ATM-nya berapa, lalu mengekspos berita liburannya ke manca negara, seperti hidup hanya milik mereka dan keluarganya. Luar biasa. 

Maka benar, orang kaya atau merasa kaya yang kini sedang “di atas” memiliki banyak uang, lebih banyak peduli pada diri dan keluarganya, di banding kepada orang lain dan lingkungannya atau kepada kelompok/ perkumpulan/ organisasi yang diikutinya. Kapan, para elite partai dan pemimpin bangsa ini yang aslinya kaya, bukan kaya dari uang rakyat, dapat memberi teladan, peduli kepada orang lain yang lebih miskin? 

Apakah harus menunggu ada hidayah? Sebab hidup merasa tidak pernah puas, tak bersyukur dan tak pandai bersyukur.

Negeri kita kaya, tapi kekayaan itu untuk siapa?


Supartono JW : Pengamat/Tempo

4 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here