SM/Supriyanto - SERAHKAN BANTUAN: Perwakilan Mitra Dagang Jenitri China-Indonesia menyerahkan bantuan untuk penanganan Covid-19 di Kebumen, Senin (13/4/2020).

KEBUMEN, SM Network – Kepedulian terhadap pandemi Coronavirus (Covid-19) datang dari berbagai elemen masyarakat. Salah satunya datang dari Mitra Dagang Jenitri China-Indonesia yang memberikan bantuan dalam penanganan pandemi Covid-19 di Kebumen.

Para buyer jenitri itu menyerahkan bantuan berupa alat 54 unit hand sprayer atau alat penyemprot dan 5.000 sarung tangan kepada Pemkab Kebumen. Bantuan diterima oleh Bupati Kebumen Yazid Mahfudz di Rumah Dinas Bupati Kebumen, Senin, 13 April 2020.

Perwakilan para pengusaha jenitri asal Tiongkok Deni menyampaikan bahwa bantuan tersebut merupakan sumbangan dari mitra dagang jenitri di Kebumen. Dia berharap bantuan itu dapat membantu penanganan Covid-19 di Kebumen.

“Kami berharap wabah Covid-19 segera teratasi. Sehingga jual beli jenitri di Kebumen kembali normal,” ujar Deni didampingi salah satu pengusaha jenitri Purwadi. Deni berbahasa Indonesia cukup lancar. Diketahui pria asli Tiongkok itu sudah tinggal tujuh tahun di Kebumen. Bahkan dia telah menikah dengan warga asli Pejagoan.

Omzet Menurun Bupati Kebumen Yazid Mahfudz menyambut baik bantuan yang berikan oleh Mitra Dagang Jenitri China-Indonesia. Bantuan itu langsung disalurkan untuk penanganan Covid-19 melalui BPBD Kebumen.

“Semoga kerjasama ini bisa ditingkatkan ke depannya,” pungkasnya. Tampak Plt Kalakhar BPBD Kebumen Teguh Kristiyanto, Kabid Kedaruratan dan Logistik BPBD Salam dan Kabag Humas Setda Kebumen Eko Purwanto.

Purwadi salah satu pengusaha jenitri di Kebumen mengakui mengakui bisnis jenitri di Kebumen sangat terdampak adanya pandemi Covid-19. Omzetnya bisa turun sampai 50 persen dari hari normal. 

Selain pengiriman barang terkendala, saat ini para buyer dari Tiongkok tidak bisa masuk ke Kebumen. Dengan demikian jual beli hanya dilakukan secara online. “Ini dampaknya pada harga jual yang rendah karena pembeli tidak bisa langsung melihat produknya. Misalnya barang yang sebelumnya bisa dijual Rp 2.000 per biji hanya laku Rp 500 per biji,” ujar Adi panggilan akrabnya.


Supriyanto

3 KOMENTAR