Minim Air, Hasil Panen Padi Kelurahan Jatiluhur Turun 50 Persen

KEBUMEN, SM Network – Minimnya ketersediaan air pada masa tanam kedua (MT 2) berdampak pada hasil panen padi. Bahkan hasil panen para petani di Kelurahan Jatiluhur Kecamatan Karanganyar Kebumen turun hingga 50 persen dibandingkan sebelumnya.

Jika biasanya dalam satu hektare sawah bisa menghasilkan 7 ton gabah, namun untuk musim panen kali ini hanya 3,5 ton gabah.

Hal itu dikatakan Ketua Kelompok Tani Margo Raharjo Kelurahan Jatiluhur, Sehat Mukiyono (45), saat ditemui di sela-sela panen padi, Kamis (3/9). Menurutnya, musim tanam kali ini mengalami kemunduran. Di mana tahun lalu, MT 2 jatuh pada April, sedangkan tahun ini mundur 2 bulan, yaitu dimulai pada Juni, sehingga saudah memasuki musim kemarau.

Sebelumnya, para petani telah melakukan berbagai upaya untuk mengairi sawah mereka secara swadaya dan gotong royong dengan menyedot air dari sungai menggunakan pompa air. Kendati begitu, upaya tersebut ternyata tidak bisa maksimal dan sawah pun tidak dapat terairi semua sehingga tanaman padi pun kekurangan air dalam pertumbuhannya.

“Sebelumnya kami secara swadaya telah mengupayakan untuk mengairi persawahan dengan cara menyedot air dari sungai dengan pompa air, namun tetap tidak bisa maksimal terairi semua,’’ katanya.

Meski mengalami penurunan, dirinya tetap bersyukur karena masih bisa panen. Sementara itu, hasil panen di Kelurahan Panjatan Kecamatan Karanganyar cukup bagus. Bahkan ada yang panen dengan hasil di atas rata-rata.

“Rata-rata hasil panennya sama seperti rendengan (musim hujan) karena air di sini gak masalah,” ucap Ketua Gapoktan Makmur Sejahtera Kelurahan Panjatan, Purnomo Singgih yang dihubungi terpisah Kamis (3/9).

Diakui, air yang ada di sawah acapkali diuoayakan sendiri olehnpara petani melalui penyedotan sumur bor menggunakan pompa air, keberadaanya bisa menumbuhkan tanaman hingga bisa dipanen. Untuk varietas Inpari 42 dengan sistem full organik bisa menghasilkan 8 ton gabah kering panen (GKP) perhektate. “Kalau rata-ratanya 6 ton sampai 7 ton.
Sedangkan untuk wilayah Panjatan, 5 ton sudah maksimal,” ungkap Purnomo yang beberapa kali menyabet penghargaan tingkat nasional dalam pengembangan pertanian organik itu.

Tinggalkan Balasan