Merasa Dibohongi , Ribuan Nasabah BKK Pringsurat Tagih Pengembalian Uang

TEMANGGUNG, SM Network – Ribuan nasabah menggeruduk Kantor PD BKK Pringsurat di Jalan Hayam Wuruk Maron, dan Kantor Bupati Temanggung di Jalan A Yani. Mereka beramai-ramai datang sesuai ancaman sebelumnya, yakni untuk menarik dana mereka yang tersimpan di lembaga keuangan milik pemerintah tersebut, Selasa (4/2).  

Pagi hari mereka mendatangi Kantor BKK Pringsurat sembari memasang sejumlah spanduk bernada kritis antara lain, “Tabungan kami adalah hasil jerih payah tetesan keringat, kembalikan uang kami”, “Kembalikan uang rakyat, jangan tunggu rakyat marah, rakyat sudah lapar”, “Nek ora melu nagih, iso ora dibayar”, dan “dijamin oleh pemerintah provinsi jawa tengah mana buktinya”.

Namun kedatangan mereka harus gigit jari lantaran kantor BKK Pringsurat dalam keadaan sepi dan terkunci, lalu berinisiatif mendatangi Kantor Bupati. Akan tetapi di lokasi tersebut sempat digelar orasi. Nasabah meluapkan amarahnya kepada Gubernur Ganjar Pranowo yang mengangkat slogan “mboten korupsi mboten ngapusi”, tapi ternyata berbohong kepada nasabah lalu juga mengkritik slogan Bupati Hadik “tentrem, marem, gandem” tapi faktanya nasabah tidak tentram.

“Slogan mereka aja korupsi aja ngapusi tapi kita sudah tiga tahun diapusi. Nasabah mengumpulkan uang dari Rp 1.000- Rp 2.000 ditabung di sini, tapi uangnya dimakan, digondol sama tikus-tikus BKK Pringsurat. Nasabah ke sini ingin menarik uang yang tersimpan di BKK Pringsurat sesuai dengan jatuh tempo pada bilyet dan hal ini juga sudah sesuai dengan kesepakatan para nasabah dengan Direktur BKK Pringsurat Supriyadi,”ujar Koordinator Paguyuban Nasabah BKK Pringsurat, Djoko Juwono.

Menurut dia, total dana nasabah yang tersimpan di BKK Pringsurat ada sekitar Rp 114 miliar, sejauh ini memang sudah ada yang dicairkan sekitar 20-30 persen, akan tetapi sisanya sampai sekarang tidak jelas kapan akan dibayarkan. Kedatangan mereka bukan tanpa dasar, sebab sesuai surat pemberitahuan tanggal 7 Januari 2020, nasabah akan melakukan penarikan uang secara besar-besaran. Tapi sampai saat ini tidak pernah ada konfirmasi dari pihak BKK Pringsurat, tapi nasabah tetap akan terus melakukan berbagai gerakan guna meminta uang.

Sesampainya di Kompleks Kantor Bupati, nasabah di persilakan masuk ke Gedung Graha Bhumi Phala. Mereka lantas ditemui Bupati Khadziq, Ketua DPRD Yunianto dan jajaran Wakil Ketua DPRD, serta perwakilan dari Pemprov Jateng Asisten II Pemprov Jateng Peni Rahayu, Kabiro Perekonomian Bramastyo, Direktur Utama BKK Pringsurat Supriyadi dan lain-lain.

Djoko Yuwono dalam pertemuan itu dengan tegas menyatakan tidak mau lagi berkompromi sebab sudah tiga tahun terus menerus dibohongi dengan pepesan kosong. Sesuai bilyet deposito yang ditandatangani oleh manajemen ada kesepakatan bahwa pencairan tahap pertama Rp 25 miliar mulai Senin 4 Februari 2019 ternyata dalam perjalan hanya dicairkan Rp 12,9 miliar.

“Hari ini harapan kami pulang membawa uang, saya minta hari ini notaris didatangkan untuk membuat kesepakatan sebab kalau hanya pakai stempel BKK Pringsurat diapusi. Cairkan uangnya hari ini cairkan, kalau tidak bubar wes ora percaya maneh karo pemerintah,”katanya.

Asisten Sekda Bidang Ekonomi dan Pembangunan Provinsi Jateng Peni Rahayu, menuturkan, pemilik saham PD BKK Pringsurat, Bupati Temanggung dan Gubernur Jawa Tengah, akan bertanggung jawab terhadap pengembalian dana nasabah di lembaga keuangan daerah yang telah bangkrut ini. Bahkan kini sudah sampai tahap meminta bantuan kepada otoritas jasa keuangan (OJK) lalu lambannya pencairan dana karena harus ada legal formalnya agar dikemudian hari tidak tersandung masalah hukum.

“Beberapa tahapan sudah kami lalui. Kami dari provinsi tidak membohongi nasabah, berbagai upaya sudah dilaksanakan termasuk tahapan pembayaran meskipun belum selesai karena ada aturan lain. Pembayaran ini dengan uang Provinsi Jateng, iuran dari BKK se-Jateng, mereka menempatkan dananya di sini, sudah ada 16 yang membayarkan secara bertahap,”katanya.

Namun dalam perjalanannya, karena BKK ini pembentukannya belum sesuai dengan aturan yang ada dalam OJK, maka untuk menuju ke sana, perlu proses konsolidasi dengan OJK. Dari 29 BKK, termasuk Pringsurat, diajukan ke OJK untuk menjadi lembaga ekonomi yang benar-benar legal secara keuangan yang dikeluarkan OJK, alan tetapi BKK Pringsurat dan BKK Klaten ditolak lantaran tidak sehat.

Disita Negara

Peni menjelaskan, dalam keputusan pengadilan disebutkan bahwa semua aset BKK Pringsurat disita oleh Negara, kemudian yang sudah membayar pun sekarang tidak boleh membayar ke BKK, membayarnya ke kejaksaan. Aset yang disita Rp 39 miliar dan sejauh ini Pemprov tengah berjuang agar aset bisa dikembalikan ke pemegang saham guna dikembalikan lagi kepada nasabah termasuk pengembalian pada piutangnya.

“Karena jalannya diputuskan dibubarkan atau likuidasi, OJK tidak bisa langsung membubarkan, atau harus ada tim likuidasi yang akan menjembatani pemegang saham. Dalam Perda Pembentukan PD BKK, jika PD BKK dibubarkan, utang dan kewajiban keuangan dibayarkan dari harta kekayaan PD BKK, sedangkan sisa lebih atau kurang menjadi tanggung jawab pemegang saham. Kami harus kembalikan sekitar Rp 120 miliar dan baru dibayar Rp12,9 miliar, jika dikurangi aset, masih banyak yang harus dikembalikan,”katanya.

Bupati Temanggung Muhammad Al Khadziq menegaskan bahwa pihaknya tetap ingin memperjuangkan nasib warga Temanggung yang jadi nasabah BKK Pringsurat. Dikatakan, solusi likuidasi atau pembubaran BKK Pringsurat dengan mencari dasar hukum yang kuat semata-mata dilakukan karena ingin membayar dana nasabah. Bupati selaku pemilik aset 49 persen akan mengikuti apa kata pemilik aset 51 persen yakni Gubernur atau Pemrov Jateng.

Akan tetapi jawaban dari Peni maupun Hadik ternyata tidak bisa memuaskan nasabah BKK Pringsurat. Tuntutan pencairan uang saat itu juga tidak bisa dipenuhi, termasuk tuntutan mendatangkan notaris, dan memberi kepastian tanggal kapan uang nasabah cair. Karena menemui kebuntuan para nasabah pun melakukan aksi walkout dengan meninggalkan para pejabat itu di Graha Bhumi Phala sembari meluapkan kekecewaannya.

Raditia Yoni A

Tinggalkan Balasan