Menyaru Sebagai Polisi Dua Napi Asimilasi Lakukan Pemerasan

TEMANGGUNG, SM Network – Meski belum lama menghirup udara kebebasan dua orang napi asimilasi di Temanggung atas nama AS (38) dan WL (38), kembali melakukan aksi kejahatan. Atas tindakan kriminalnya itu mereka kemudian ditangkap petugas kepolisian lalu kembali dijebloskan ke dalam sel tahanan.

Kapolres Temanggung AKBP Muhamad Ali mengatakan, dua orang napi asimilasi, yang melakukan pemerasan dan penipuan itu ditangkap di rumah masing-masing. Dikatakan, AS (32) adalah warga Desa Watukumpul, Kecamatan Parakan dan WL (38) warga Desa Caturanom, Kecamatan Bansari. Keduanya merupakan residivis kasus kriminal.

“Dalam aksinya mereka mengaku sebagai polisi untuk menakuti korbannya, bahkan mengancam akan menangkap dan menembak jika tidak mau memberikan sejumlah uang. Berdasar pengakuan pelaku mereka melakukan aksi tersebut atas permintaan DN (40), sesama napi yang kini masih mendekam di Rutan Temanggung. DN meminta keduanya untuk mengerjai tetangganya dengan mengaku sebagai polisi dan meminta uang,”ujarnya Sabtu (6/6).

Disebutkan, ada tiga orang yang menjadi korban pemerasan tersebut, yakni Istarom warga Desa Ngemplak Kecamatan Kandangan, Taat Budi Prasetyo juga warga Ngemplak, Kandangan, dan Tahmid warga Desa Tlogopucang, Kecamatan Kandangan. Aksi itu dilakukan setelah AS dan WL keluar rutan dalam rangka asimilasi.

“Dua napi asimilasi ini membuat skenario dengan membawa surat target operasi berkop garuda untuk menakut-nakuti korbannya. Bermodalkan surat palsu dan menyaru sebagai polisi membuat upaya pemerasan sekaligus penipuannya membuahkan hasil. Modus lainnya adalah mengatakan kepada korban bahwa mereka pernah mendapatkan sepeda motor bodong dari DN,”katanya.

Korban Istikarom sudah membayar Rp 4 juta dari Rp 5 juta yang diminta, kemudian korban Taat Budi Prasetyo membayar Rp 3 juta dari Rp 5 juta yang diminta. Kemudian korban Tahmid dari kesanggupan membayar Rp 3,5 juta baru memberikan Rp1,7 juta dari Rp 6 juta yang diminta tersangka.

Dari kasus ini polisi mengamankan barang bukti berupa selembar surat target operasi (TO) dengan beberapa nama, termasuk nama korban. Kemudian sebuah catatan milik DN yang diberikan kepada WL berisi target orang yang akan dilakukan pemerasan dan penipuan, serta catatan kunjungan Rutan Temanggung.

Kasat Reskrim Polres Temanggung AKP Alfan Armin mengatakan, tersangka AS merupakan residivis kasus curanmor roda empat, dan tersangka WL adalah residivis kasus curanmor roda dua. Keduanya keluar dari Rutan Temanggung dalam rangka program asimilasi Kemenkumham mulai 20 Mei 2020. Mereka dijerat Pasal 368 KUHP juncto Pasal 378 KUHP tentang pemerasan dan atau penipuan, dengan ancaman hukuman penjara untuk pemerasan maksimal 9 tahun dan untuk penipuan maksimal 4 tahun.


Raditia Yoni Ariya

Tinggalkan Balasan