SM/Asef F Amani - MUSHOLA SABLONGAN: Mushola Sablongan di Kampung Sablongan Kota Magelang masih berdiri dengan mempertahankan ciri khas arsitektur Jawa-Hindies di awal pendirian, yang memiliki peran penting dalam pertumbuhan modernisasi pendidikan Islam di Karesidenan Kedu awal abad ke-20.

LANGGAR, mushola, atau masjid tak semata bangunan fisik yang berfungsi sebagai tempat ibadah saja. Tapi, lebih dari itu berperan penting juga dalam perkembangan pendidikan Islam di suatu wilayah. Hal ini mengingat, langgar seringkali menjadi tempat belajar/pendidikan agama Islam.

Seperti di Kota Magelang, terdapat sebuah mushola kecil tapi penuh sejarah. Bahkan, tak hanya bersejarah dalam perkembangan pendidikan agama Islam, tapi juga memiliki peran penting pada terbentuknya Kampung Arab, kampung yang dipenuhi orang-orang keturunan bangsa Arab.

Mushola Sablongan namanya, berlokasi di ujung timur Jalan Kalingga Kota Magelang. Lokasinya agak tersembunyi di antara bangunan rumah, tapi warga Kampung Sablongan cukup mengenal mushola yang masih mempertahankan gaya arsitektur hindies layaknya Langgar Koja di Jakarta Barat ini.

Husain Haikal (54), cucu pendiri mushola ini menuturkan, Mushola Sablongan didirikan oleh eyangnya yang bernama Husain Bin Ja’far bin Ahmad bin Muhammad al-Attas. Tahun pendirian sekitar tahun 1900, sedangkan sang pendiri sendiri wafat sekitar sebelum tahun 1939.

SM/Asef Amani

“Langgar ini dirawat oleh adik saya, Jamaluddin. Kakek kami mendirikan mushola ini sejak masuk ke Kota Magelang seiring dengan pendirian rumah tempat tinggal. Baik rumah maupun mushola keduanya juga menjadi tempat tinggal eyang saya,” ujarnya saat ditemui di mushola setempat.

Dia menyebutkan, awal bangunan berdiri di sisi sebelah selatan dari posisi saat ini. Awal bangunan berupa panggung yang terbuat dari kayu jati. Di bagian atas terdapat mustaka yang memiliki ciri khas bangunan percampuran Jawa dan Hindies.

“Sekarang sudah direnovasi menjadi beton. Meski begitu, bentuk dan kayu pintu, jendela, dan mustaka tetap kita pertahankan sama seperti di awal berdiri. Hal ini sebagai penanda kalau mushola milik keluarga ini sudah berusia tua,” katanya.

Berbeda dari masjid, Mushola Sablongan ini untuk saat sekarang hanya untuk tempat beribadah shalat lima waktu. Masyarakat sekitar, terutama orang-orang pasar kerap mampir di langgar ini untuk shalat berjamaah.

Meski begitu, siapa sangka, langgar kecil ini juga memiliki peran penting bagi pertumbuhan modernisasi pendidikan Islam di Karesidenan Kedu awal abad ke-20. Seperti dituturkan oleh Ahmad Athoillah, kandidat doktor jurusan sejarah di Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta.

“Ceritanya ketika itu seorang ulama besar dari Pekalongan bernama Ustadz Saqqaf bin Ahmad bin ‘Alwi Al-Jufri (wafat 1979) mulai pengajarannya kepada komunitas Hadrami di Magelang pasca tahun 1918,” tuturnya.

Peneliti sejarah Islam asal Kulonprogo itu menyebutkan, Mushola Sablongan ini juga menjadi saksi penting dalam pengumpulan para murid Hadrami untuk mendirikan Sekolah Arab Al-Iman di Magelang yang didirikan Ustadz Saqqaf Al-Jufri pada tahun 1932.

“Bahkan, bisa saya katakan terkait erat dengan adanya Kampung Arab di Kota Magelang. Kampung Arab ini sekarang berpusat di Samban, Kelurahan Gelangan. Titik sentralnya adalah berdirinya Masjid Bait Al-Sholihin, yang dulu merupakan langgar/surau kecil. Masjid ini didirikan oleh putra R Husain, yaitu Salih Attas pada awal abad ke-20,” jelasnya.


Asef F Amani

1 KOMENTAR