MAGELANG, SM Network – Mengurus akta kematian terkadang menjadi hal yang kurang diperhatikan oleh anggota keluarga yang sedang berduka. Padahal, akta kematian memiliki fungsi yang tidak kalah pentingnya dengan dokumen administrasi lainya.

Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Disdukcapil) Kota Magelang mulai menerapkan program Si Sakti (Aksi Siap Antar Akta Kematian) di awal-awal tahun 2020. Program ini salah satu bentuk peningkatan pelayanan kepada masyarakat.

Kepala Disdukcapil Kota Magelang, Larsita mengatakan, per 2 Januari 2020 lalu program Si Sakti diterapkan dan langsung mendapat respon positif dari masyarakat. Dengan program ini, warga tidak perlu lagi repot mengurus akta kematian.

“Sejak diluncurkan sampai siang ini (kemarin, red) sudah ada 11 akta kematian yang kita kirim ke ahli waris. Ke-11 akta ini dari 11 kasus kematian yang ada dan akta sudah terikirim ke ahli waris sebelum jenazah dimakamkan. Artinya, 100 persen kita selesaikan,” ujarnya di kantornya, Senin (6/1).

Dia menjelaskan, program ini digulirkan untuk mengejar cakupan kepemilikan akta kematian warga yang dinilai masih rendah dibandingkan capaian kepemilikan dokumen kependudukan lainnya. Skemanya, petugas yang ditunjuk menyerahkan secara langsung kutipan akta kematian kepada pihak keluarga yang berduka.

“Saat ada warga yang meninggal, kader aktif kami di tingkat RT dan kelurahan melaporkan lewat jaringan daring (whatsapp grup, red) dan langsung diproses. Tidak lama akta jadi dan kita kirimkan,” katanya.

Terbitnya akta kematian ini, katanya dibarengi juga dengan keluarnya Kartu Keluarga (KK) terbaru dan Kartu Tanda Penduduk (KTP) Elektronik milik suami atau istri yang ditinggal. Semua dokumen ini telah mengalami perubahan elemen data.

“Misalnya yang meninggal itu masih bujang atau belum menikah, maka yang akan diserahkan kepada keluarganya hanya akta kematian dan KK saja,” tuturnya.

Ia menyebutkan, sejauh ini cakupan akta kematian tercatat 93,51 persen atau sekitar 7.495 jiwa. Larsita pun optimis, Si Sakti ini dapat meningkatkan capaian kinerja dinasnya.

“Selama ini kesadaran masyarakat mengurus akta kematian masih minim. Sebagian besar warga dengan sendiri akan melapor kalau ada keperluan mengurus warisan, Taspen, maupun asuransi. Sisanya tidak memperdulikan kepentingan kepemilikan akta kematian bagi anggota keluarganya,” jelasnya.

Ke depan, imbuh Larsita, program ini akan terus dikembangkan agar masyarakat dapat terlayani dengan lebih baik lagi. Pengembangan bisa berupa aplikasi yang bisa digunakan warga untuk memasukan data pengurusan akta kematian bagi anggota keluarganya secara mandiri.

“Di era digital ini, tentu kita harus mengikutinya. Ke depan harapannya kita buat aplikasi tersebut, sehingga akan lebih mudah lagi,” ungkapnya.

Asef Amani

2 KOMENTAR