SM/Arif Widodo - DALAM BOKS : Budidaya jangkrik ditempatkan dalam boks.
KEGANDERUNGAN masyarakat  memelihara burung berkicau ditangkap sebagai peluang usaha oleh Anggota Kodim 0709 Kebumen Sertu Nasrulloh. Ia pun membudidaya jangkrik untuk pakan burung. Peluang usaha tersebut sangat menjanjikan, mengingat kebutuhan jangkrik saat ini cukup tinggi. 

Nasrulloh (31) yang sebelumnya bertugas di Armed 17/105 Tarik Kalimantan Barat sejak 2012 - 2018 itu memulai usaha ternak jangkrik dengan dibantu saudaranya, Lukman Chakim (28). Ia memanfaatkan areal pekarangan kosong sebagai kandang untuk menempatkan boks berukuran lebar 120 cm, panjang 240 cm.

"Saat ini sudah ada 13 boks," kata  Nasrulloh. Ke depan, lanjut Nasrulloh, kandang jangkrik akan ditambah dengan menyewa lahan di sebelahnya yang masuk Dukuh Srepeng RT 1 / RW 2, Desa Candiwulan, Kecamatan Adimulyo, Kebumen.

Diakui, latar belakang dirinya membudidaya jangkrik karena besarnya kebutuhan jangkrik serta tingginya minat masyarakat memelihara burung berkicau. Ia pun belajar budidaya jangkrik secara otodidak. Nasrulloh juga bertanya kepada teman-temannya yang sudah lebih dulu beternak jangkrik. 

Di Kebumen lebih dari 100 pembudidaya jangkrik yang tersebar di berbagai kecamatan. Kendati demikian produksinya masih kurang karena permintaan jangkrik cukup tinggi. Sedangkan Nasrulloh baru memulai usahanya pada September 2019. 

Awalnya membeli indukan, kemudian  menjual telur setelah satu tahun. Menurut Nasrulloh, waktu yang dibutuhkan dalam pembesaran mulai telur sampai siap jual mencapai 27 hari. Rinciannya, telur ditetetaskan selama 12 hari dengan menggunakan kertas koran. 

Setelah menetas dimasukkan boks yang diberi klaras (daun pisang kering) untuk beraktivitas. Selanjutnya diberi pakan fur sampai panen selama 15 hari. "Satu boks isinya 2,5 ons telur yang sudah ditetaskan. Targetnya menghasilkan 30 - 35 kg jangkrik. Sedangkan kebutuhan furnya sekitar 35 kg," ucap Nasrulloh. 

Untuk harga jangkrik cukup fluktuatif antara Rp 10.000 - Rp 50.000 perkilogram. Jangkrik yang dimaksud bukanlah yang mengerik. Jangkrik satu ini dikenal oleh masyarakat desa dengan sebutan cliring atau ipit-ipit ilir. Perawatan jangkrik ini cukup mudah, tinggal dibersihkan kotorannya. 

Penjualannya pun ada yang mengambil  langsung di tempat budidaya jangkrik milik Nasrulloh, online COD dan dikirim ke sejumlah wilayah seperti Purworejo dan Magelang. Nasrulloh mengaku  lebih dulu mengutamakan pelanggan tetap. 

Sukses membesarkan jangkrik hingga panen, Nasrulloh juga menyiapkan bibit. Jika pembesaran dijual tidak sampai menjadi indukan, kali ini justru yang dipelihara adalah indukannya agar bertelur. Perlakuannya sama dengan dimasukkan boks serta diberi klaras dan fur. 

Hanya saja, untuk pembibitan ditempatkan nampan yang terdapat pasir laut. "Tapi pasir lautnya diayak dulu. Fungsinya untuk tempat bertelur," jelas Nasrulloh yang berharap usahanya terus berkembang serta menambah lapangan pekerjaan.

Dari 13 boks yang ada juga diisi untuk pembibitan dan pembesaran. Selain untuk pakan burung berkicau, jangkrik juga untuk pakan lele dan umpan memancing. Acapkali untuk pakan kucing anggora. Sedangkan kotoran jangkrik bisa digunakan sebagai pupuk.