Mengenal Wisata Edukasi Kupu-kupu di Borobudur

MUNGKID, SM Network – Bagi warga Magelang tak perlu jauh-jauh ke luar kota jika ingin berwisata dan belajar tentang kupu-kupu. Di kawasan Borobudur, tepatnya di Dusun Mendalan Desa Tanjungsari, Kecamatan Borobudur ada destinasi baru yakni Borobudur Butterfly Edu yang akan memberikan pengalaman baru dan seru.

Lokasi ini akan menyuguhkan berbagai jenis ratusan kupu-kupu di area penangkarannya. Di sini kita juga bisa mengetahui metamorfosa kupu-kupu melalui habitatnya secara langsung.

SM/Dian Nurlita – INSEKTARIUM: Kupu-kupu yang sudah mati, kemudian dimanfaatkan bangkainya untuk dijadikan hiasan dinding.

Borobudur Butterfly Edu sendiri merupakan penangkaran kupu-kupu yang dijadikan sebagai wisata edukasi. Terletak di halaman belakang rumah warga, wisata ini menyuguhkan beraneka ragam spesies kupu-kupu hidup. Disana kupu-kupu ditangkarkan sehingga kita bisa melihat secara langsung proses metamorfosa dari ulat menjadi kupu-kupu.

“Lokasi ini kita dirikan bersama anggota keluarga lainnya. Dan awalnya bukan untuk wisata,” jelas pemilik Borobudur Butterfly Edu, Warih Budi Triningsih.

Warih menceritakan awal mula orientasinya bukan ke penangkaran kupu-kupu. Namun, karena keprihatinan banyak ulat yang dimakan predator dan banyak ulat yang dibasmi orang. “Hal itu membuat prihatin saya, padahal ulat itu pasti akan menjadi kupu-kupu yang cantik. Jika ulat dibasmi kupu-kupunya makin lama makin lama berkurang,” ujarnya.

Wisata ini sendiri, telah di buka sejak awal tahun 2020. Namun karena adanya pandemi mengharuskan wisata ini ditutup. Borobudur Butterfly Edu dibuka kembali pada pertengahan bulan Agustus lalu. Untuk proses metamorfosa kupu-kupu, Ia menyediakan penangkaran yang dibalut konsep taman bunga atau habitat asli dari kupu-kupu.

“Di taman penangkaran kami konsep seperti habitat aslinya, mulai dari jenis pepohonan untuk hidup ulat dan menjadi kepompong. Setelah menjadi kupu-kupu, kita juga sediakan tanaman buat makanannya berupa bunga-bunga,” ujarnya.

Karena kupu-kupu masa hidupnya pendek, lanjutnya maka disiapkan juga untuk memanfaatkan bangkainya. “Kupu-kupu itu masa hidupnya tidak lama, mulai proses telur menjadi ulat, kepompong dan keluar kupu-kupu itu sekitar 1,5-2 bulan. Sedangkan masa hidupnya, setelah pejanjtan kawin atau betina bertelur pasti akan mati,” kata Warih.

Melihat hal tersebut, maka ia berinovasi membuat aksesoris dari bangkai kupu-kupu mati dengan cara insektarium. “Jadi kupu-kupu dengan motiv indah kita proses, untuk dijadikan hiasan dinding. Dimana bisa dimaksukan dalam bingkai. Jadi terlihat indah,” ungkapya.

Di lokasi tersebut terdapat juga galeri beraneka ragam spesies kupu. Mulai dari kupu endemik lokal Jawa hingga endemik Papua. Kupu-kupu yang dibingkai dan dipajang dalam galeri tersebut merupakan kupu-kupu asli yang telah diawetkan dengan proses pengiringan.

Berwisata di Butterfly Edu ini belum dikenakan tiket masuk untuk belajar soal metamorfosa kupu-kupu secara langsung. Namun, bisa memberikan donasi dengan membeli souvenir hiasan dinding berupa kupu-kupu yang ada di galeri. Ia juga menyampaikan, saat ini kupu-kupu yang ada di penangkaran ini akan dilepas liarkan saat musim kemarau. “Nanti biasanya di musim kemarau kupu-kupu akan banyak lahir dari kepompong. Akan kita lepas liarkan sebagian diwilayah sini juga,” ujarnya.

Terakhir Warsih Budi berharap bisa mengembangkan wisata edukasi tersebut lebih besar lagi. “Ya nanti akan ada pengembangan dan penataan lokasi penangkaran agar lebih enak saat dikunjungi. Dan akan menggabungkan beberapa wisata lain di sekitar kampung sini,” harapnya.

Dan perlu diketahui, lokasi tersebut sudah sering dikunjungi wisatawan lokal maupun luar daerah. “Biasanya weekend wisatawan dengan paket mobil vw masuk desa sering datang kesini sore-sore. Meskipun jam operasional mulai pukul 08.00 hingga pukul 17.00, kami tetap layani jika memang rombongan wisatawan datang kesorean,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan