Mengajar secara Daring Bikin Guru Makin Kreatif

CINDE Arum Asmarani menjadi salah satu guru yang merasakan betul dampak dari adanya pandemi Covid-19. Terutama dampak terhadap profesinya sebagai pengajar sekolah dasar (SD) yang kemudian menuntut untuk dapat beradaptasi, bahkan kreatif dan berinovasi.

Wanita kelahiran Magelang, 13 Mei 1994 itu mengaku tak menyangka akan mengalami kondisi yang belum pernah terbayangkan sebelumnya ini. Ia harus memutar otak agar proses kegiatan belajar dan mengajar (KBM) tetap berjalan meski di tengah pandemi.

Pembelajaran melalui metode online atau daring (dalam jaringan) menjadi jalan utama proses pendidikan saat ini. Hampir satu semester metode ini diterapkan oleh Arum dan kawan guru lain di Indonesia, bahkan di dunia.

“Awalnya syok dampak Covid-19 ini luar biasa terhadap segala bidang, termasuk pendidikan. Tak kebayang sebelumnya kalau harus mengajar tanpa tatap muka dengan murid. Tatap muka hanya melalui layar gawai atau laptop, itu pun saya pribadi jarang melakukannya,” ujarnya kepada Suara Merdeka.

Guru kelas V SD Negeri Tidar 1 Kota Magelang ini menuturkan, sekitar akhir bulan Maret proses KBM diputuskan tidak dilakukan dengan tatap muka. Otomatis, para siswa belajar dari rumah, sedangkan guru tetap masuk ke sekolah dan ke dalam kelas.

“Rasanya aneh, masuk ke kelas tapi tidak ada murid. Kita harus tetap masuk ke sekolah dan ke kelas tiap hari untuk mengajar. Awalnya aneh, tapi lama-lama dah biasa. Jadi, saya di kelas sendirian menyiapkan bahan ajar dan dikirimkan ke anak-anak dalam bentuk file,” katanya.

Sesekali, kata Arum, ia bertatap muka dengan sekitar 30 murid-muridnya melalui aplikasi Zoom Meeting. Hal unik pun banyak terjadi saat pertemuan, seperti tiba-tiba menghilang dari layar, ada yang mendengarkan penjelasan guru sambil bermain, ada pula yang duduk sambil leyeh-leyeh.

“Saya pakai zoom meeting tidak sering supaya tidak bosan. Juga kita tahu kondisi anak atau orang tua berbeda-beda, ada yang mampu membeli kuota lebih dan ada pula yang tidak sanggup,” jelasnya yang kerap mendapat curhatan dari orang tua bahwa, mengajar anak di rumah itu susah.

Setelah enam bulan berlalu, alumnus PGSD Universitas Muhammadiyah Magelang (Unimma) ini merasa saat ini sudah mulai terbiasa dengan metode tersebut. Hanya saja, ia sekarang merasakan rindu yang sangat kepada murid-muridnya.

“Sekarang yang ada kangen, ingin pembelajaran seperti biasanya. Kangen bisa ketemu anak-anak, kangen suasana riuh ramai di kelas. Beda sekali rasanya ketemu hanya di virtual. Tapi, bagaimana lagi kita harus kuat dan bersabar,” paparnya. Arum menyebutkan, bahan pelajaran setiap hari ia kirimkan ke muridnya baik dalam bentuk file maupun video. Tak jarang ia unggah juga video pembelajaran di media sosial Youtube untuk dapat dipelajari murid-muridnya.

“Dari kondisi ini, saya bisa mengambil hikmahnya. Salah satunya kreativitas kita bertambah. Gimana tidak kreatif, kita dituntut membuat video pembelajaran yang sebelumnya belum pernah dilakukan. Harus kreatif juga kasih pelajaran ke siswa,” ungkapnya yang mengaku sudah mendapat bantuan kuota gratis dari pemerintah.

Tinggalkan Balasan