Mencerdaskan Bangsa Perlu Pendidikan Humanis Bukan Kapitalistik

YOGYAKARTA, SM Network – Konsep Pendidikan Ki Hadjar Dewantara sangat relevan menjadi desain pendidikan yang memanfaatkan teknologi canggih yang terus berkembang dan mengoreksi pola pendidikan karakter selama ini. Pemikiran Ki Hadjar bukan saja dipelajari tapi diimplementasikan dan memberi warna dalam praktik kehidupan bangsa.

Upaya mencerdaskan kehidupan bangsa harus melalui pendidikan yang humanis, bukan kapitalistik. Rektor Universitas Widya Mataram (UWM), Prof Edy Suandi Hamid mengungkapkan itu ketika berbicara dalam Dialog Pendidikan bertema Refleksi Melacak Jejak Ajaran Ki Hadjar Dewantara. Acara diselenggarakan oleh Buletin Neng Ning Nung Nang.

”Pemikiran Ki Hadjar tentang perilaku yang harus dimiliki seorang pemimpin, juga seorang pendidik, yang sering dikenal sebagai Trilogi Pendidikan (Kepemimpinan), yakni Ing Ngarsa Sung Tuladha, Ing Madya Mangun Karsa, dan Tut Wuri Handayani , selalu dibahas, ditafsirkan, diajarkan, dan diharapkan bisa dilaksanakan dalam kehidupan,” tandas Edy.

Menurutnya secara prinsip pemikiran-pemikiran yang disampaikan Ki Hadjar hampir seabad yang lalu tetap relevan diterapkan dan diaktualisasikan saat ini, dengan konteks zaman yang sudah sangat berubah. Pemikiran-pemikiran pendidikan Ki Hadjar sangat mengedepankan aspek karakter dan humanisme.

Kaji Ulang

Edy mengatakan dalam era seperti sekarang, di tengah-tengah publik Indonesia dan dunia berbicara tentang Revolusi Industri 4.0 yang juga berdampak pada dunia pendidikan, menjadi sangat relevan menggali pemikiran Ki Hadjar. Dunia pendidikan harus melakukan penyesuaian-penyesuaian sejalan dengan perubahan teknologi yang cepat dan sangat dinamis. Ia melihat dua dasawarsa terakhir, persoalan karakter sangat mengkhawatirkan.

Pemerintah pun, melalui Kemendikbud juga sudah secara formal menegaskan tentang pendidikan karakter. Namun implementasi pola pendidikan karakter kiranya perlu dikaji ulangkarena belum maksimal dan ada yang tidak tepat.

”Contohnya, implementasi nyata Yogyakarta sebagai kota pendidikan yang dekat dengan lahirnya ajaran Ki Hajar Dewantara, dengan membentuk aliansi perguruan tinggi berbasis kultural untuk menghidupkan kembali dan mengembalikan fitrah pendidikan yang mampu memanusiakan manusia. Aliansi lembaga pendidikan tersebut dirasa perlu untuk menjawab berbagai persoalan pendidikan dan juga mengembalikan tujuan pendidikan pada upaya mencerdaskan kehidupan bangsa dan pendidikan yang humanis, bukan kapitalistik,” paparnya.

Rektor Universitas Nahdatul Ulama (UNU) Yogyakarta, Prof Purwo Santoso merefleksikan perjuangan Ki Hadjar perlu menarik hikmah dalam penyelenggarakan pendidikan yang memerlukan payung strategi kebudayaan. Ia menyatakan pentingnya konfigurasi dan sinergi kebudayaan daerah. Selain itu juga harus seksama dalam melakukan standarisasi, pendidikan tidak hanya berorientasi pada asah kecerdasan, namun juga asah kearifan dan kebijaksanaan.

Tinggalkan Balasan