Membumikan Porang, Kebutuhan Ekspor Tak Terhingga

HAMPIR seluruh daerah di Indonesia kini terdapat budidaya tanaman porang (Amorphophallus muelleri). Di Kebumen, budidaya tanaman sejenis umbi-umbian itu tengah digeliatkan untuk merespons kebutuhan ekspor yang tak terhingga.

“Desember 2020 lalu, dari Vietnam
kebutuhan porang kering mencapai 15 ribu ton pertahun,” ungkap salah satu perintis budidaya tanaman porang di Kebumen, Akif Fatwal Amin.

Akif yang juga Ketua Konfederasi serikat Pekerja Seluruh Indonesia (K-SPSI) Kebumen menyebut, kebutuhan yang besar tersebut tidak musiman atau sesaat. Pasalnya, produk turunan dari Porang cukup banyak. Tidak hanya dikonsumsi saja, tetapi dijadikan seperti beras, bahan kertas, bahan tekstil dan kosmetik.

SM/Arif Widodo – PANEN PORANG : Pembudidaya porang di Kebumen menikmati panen.

Lebih lanjut Akif menjelaskan, di Jawa Tengah pun telah buka satu pabrik pengolah porang. Adapun di Jawa Timur sudah ada empat pabrik. Harga awal musim panen Rp 8.000 – Rp 11.000 per kg.

Proses pengolahan porang untuk bahan makanan dibuat tepung terlebih dahulu. Kendati di Kebumen tertinggal dibandingkan daerah lain dalam membudidaya porang, namun
di tahun 2020 musim tanamnya mengalami peningkatan berarti.

Mengenai porang yang diolah pabrikan untuk bahan kertas, keistimewaannya lebih tipis tapi tidak gampang sobek karena memiliki kadar glokomanan yang tinggi. Begitu juga pabrik tekstil. Penggunaan porang untuk pabrik satu ini pada proses sebelum dirajut menjadi kain. Di mana benang yang dicelupkan ke dalam cairan porang, akan lebih mengilap dan elastis.

“Untuk kosmetik, porang sebagai campuran. Jadinya kosmetik yang dipakai tidak gampang luntur tapi terbuat dari bahan alami,” imbuh Akif.

Dikatakan Akif, budidaya porang cukup gampang karena tidak butuh lahan khusus. Untuk wilayah di bawah 200 meter dari permukaan laut (MDPL) sangat cocok dengan suasana rindang. Tanaman tersebut butuh kelembaban tapi tidak berlebihan air atau intensitas cahaya antara 40-60 persen.

Akif yang memiliki 2 hektare lahan porang dan merambah ke pembibitan itu mengaku mulai mendapat pesanan dalam bentuk polibek. Dari tanam sampai panen memakan waktu sekitar enam bulan.

“Budidaya apapun, tentunya harus lihat produk turunan seberapa banyak. Kalau pepaya, jambu kristal paling hanya untuk buah saja. Sehingga tidak laku kalau melimpah. Berbeda dengan porang yang produk turunannya banyak, baik untuk skala industri maupun pabrikasi,” terang Akif

Diharapkan tahun 2021 lebih menggeliat lagi. Di samping itu mendapat perhatian dari pemerintah untuk melakukan sosialisasi atua memberikan bantuan. Terlebih masih banyak lahan kosong di Kebumen. Salah satu pembudidaya porang yang memanfaatkan pekarangan sekitar rumah yakni Heru Sutopo, warga Desa / Kecamatan Pejagoan, Kebumen.

Sementara itu, Kabid Tanaman Pangan pada Dinas Pertanian Ifah Isnatul Banat yang dihubungi terpisah menyampaikan perhatian Pemerintah Provinsi terkait pengembangan budidaya porang. “Dari provinsi sudah ada bantuan, hanya saja untuk Kebumen belum,” ucapnya.

Tinggalkan Balasan