SLEMAN, SM Network – Ramadhan adalah bulan yang paling dinanti oleh umat Islam. Di bulan suci ini, kaum muslim berlomba meraih pahala. Namun ada yang berbeda dalam  pelaksanaan ibadah di bulan ramadhan 1441 Hijriyah ini.

Wabah virus corona memaksa pemerintah mengeluarkan imbauan kepada warga supaya melaksanakan ibadah di rumah, demi mencegah penularan. Hal ini diakui cukup menjadi dilema. Takmir Masjid Pathok Negoro Plosokuning Sleman Kamaludin Purnomo mengatakan, pihaknya khawatir akan mendapat protes jika ibadah di masjid selama bulan ramadahan ditiadakan.

 “Tarawih tetap dilangsungkan karena sudah menjadi bagian dari Masjid Pathok Negoro yang sulit untuk ditinggalkan,” ungkap Kamaludin saat ditemui Suara Merdeka di Masjid Plosokuning, Desa Minomartani, Kecamatan Ngaglik, Sleman.

Di lain sisi, kehadiran bulan ramadhan sangat dinanti oleh kaum muslim. Pemikiran sebagian umat, di bulan suci ini mereka dapat lebih khusyuk beribadah untuk memohon agar pagebluk Covid-19 segera hilang.”Ramadhan adalah momen yang penting untuk memohon rahmat Allah supaya Covid-19 dihilangkan. Masyarakat bisa segera sehat wal afiat,” ucap pria 56 tahun ini.Meski tetap mengadakan ibadah tarawih berjamaah, takmir masjid memberlakukan protokol kesehatan yang ketat bagi tiap jamaah. 

Semisal pengaturan jarak antar jamaah, anjuran memakai masker, dan penyemprotan dengan desinfektan ketika hendak masuk ke masjid.Selain itu, area masjid rutin disemprot dengan cairan desinfektan untuk mencegah penyebaran virus corona. Penyemprotan dilakukan hampir setiap hari. “Saat solat, jaraknya juga diatur sekitar satu meter. Memang konsekuensinya, pelaksanaan ibadah sampai di halaman masjid,” imbuhnya.Tidak hanya ibadah tarawih yang masih berlangsung.

Namun juga kegiatan rutin ramadhan lainnya seperti buka bersama, tadarus Alquran, dan solat malam.Sebelum tiba masa ramadhan, Masjid Plosokuning juga tetap menggelar solat Jumat. Menurut Kamaludin, jumlah jamaah justru bertambah. Banyak warga dari luar yang datang ke Masjid Plosokuning karena mayoritas masjid tidak menyelenggarakan ibadah bersama. “Kalau agenda pengajian anak-anak, untuk sementara ditiadakan. Sebab pesertanya adalah warga sini sendiri sehingga bisa dicegah. Tapi untuk ibadah tarawih dan solat Idul Fitri tetap harus diadakan,” tukasnya.

Tidak dipungkiri, keberadaan Masjid Ploso Kuning sudah sedemikian lekat dengan masyarakat Yogyakarta. Tempat ibadah ini didirikan oleh Sri Sultan Hamengkubowono I sebagai benteng pertahanan fisik kala itu. Merunut sejarah, Kraton Yogyakarta terbentuk setelah adanya perjanjian Giyanti pada tahun 1755 yang berisi pembagian wilayah Mataram menjadi dua. Daerah kekuasaan Hamengkubuwono I adalah sebelah barat Kali Opak.

Atas saran seorang ulama, didirikan masjid di penjuru mata angin yang kemudian dinamai Masjid Pathok Negoro. Salah satunya adalah Masjid Plosokuning yang memiliki luas sekitar 3.000 meter persegi.”Sampai sekarang, Masjid Pathok Negoro masih lestari. Bahkan, Masjid Plosokuning ini 80 persen materialnya masih asli dan terdapat abdi dalem yang digaji oleh Kraton untuk memakmurkan masjid,” ujar Kamaludin.


Amelia Hapsari

5 KOMENTAR

  1. 282935 164598Today, I went to the beach front with my children. I found a sea shell and gave it to my 4 year old daughter and said “You can hear the ocean if you put this to your ear.” She placed the shell to her ear and screamed. There was a hermit crab inside and it pinched her ear. She never wants to go back! LoL I know this is entirely off topic but I had to tell someone! 679220