Masjid Pakualaman Girigondo, Menggemakan Syiar Islam Di Lereng Perbukitan dan Pedesaan

TERLETAK di kaki Perbukitan Menoreh, membuat suasana Masjid Pakualaman di Dusun Girigondo, Desa Kaligintung, Kecamatan Temon, Kabupaten Kulon Progo, DIY terasa asri, dengan lingkungan sekitar yang masih banyak ditumbuhi pepohonan.

Masjid ini berada di kawasan Makam Girigondo yang merupakan pemakaman milik Pakualaman Yogyakarta, dimana Paku Alam V hingga IX dimakamkan. Ketua Takmir Masjid Pakualaman Girigondo, Wasiludin mengungkapkan, semula bangunan ini belum difungsikan sebagai masjid tetapi berupa pesanggrahan untuk transit Paku Alam maupun kerabatnya ketika akan ziarah.

“Kemudian sekitar tahun 1917 mulai digunakan untuk sholat lima waktu secara resmi. Kemudian 1930an ditambah bangunan depan, serambi. Jadi kemudian lengkaplah ada bangunan induk masjid dan ada serambi,” ungkap Wasiludin yang juga Juru Kunci Makam Girigondo bergelar Mas Riyo Rekso Winoto kepada Suara Merdeka.

Keberadaan masjid ini juga berperan dalam menggemakan syiar Islam kepada masyarakat di wilayah sekitarnya, yang secara geografis berada di lingkungan lereng perbukitan dan dataran pedesaan. Pada masa awal keberadaan masjid, syiar dilakukan dengan memberikan pembinaan-pembinaan kepada masyarakat.

“Kalau awal-awal dulu, ini kan lingkungannya lingkungan ereng-erengan, artinya dari gunung dan dataran pedesaan, dan warganya petani buruh, kita adakan pembinaan-pembinaan. Seperti adat yang ada, kadang-kadang kita gunakan untuk nyadranan, suran, hari-hari besar Islam, maupun kadang (kegiatan) hari-hari besar nasional,” tuturnya.

Berbagai kegiatan yang bersifat tahunan maupun harian rutin digelar di masjid ini. Untuk kegiatan tahunan antara lain haul akbar yang diselenggarakan pada bulan Rajab atau bulan Sya’ban dihadiri ribuan jamaah. Rangkaian acaranya berupa ziarah kubur, semaan Al Quran, dan puncaknya pengajian akbar.

“Sedangkan kegiatan harian selain sholat (berjamaah), setiap tanggal 11 hijriyah untuk amalan manaqib, pengajian-pengajian remaja, setiap malam Jumat tahlilan mujahadah dan pengajian kultum. Juga setiap Ahad Wage untuk pengajian selapanan,” katanya.

Sedangkan di bulan Ramadan, pada tahun-tahun lalu masjid ini hampir tidak pernah sepi. Sejak menjelang magrib ada pengajian untuk anak-anak, dilanjutkan buka bersama, tarawih, tadarus, dan jaburan. Kemudian setelah tanggal 21 Ramadan ada kegiatan selikuran, serta dilanjutkan kegiatan malam lailatul qodar. Namun untuk tahun ini, karena adanya pandemi Covid 19, pelaksanaan kegiatan dan jamaah dibatasi. Selain itu, jamaah juga harus mengikuti protokol pencegahan penularan.

“Untuk sekarang masih, tapi kami batasi jumlahnya, terutama pendatang memang kami tidak mengizinkan untuk datang sebelum jelas sehat,” ungkapnya.

Dari segi arsitektur, bentuk bangunan masjid ini masih sama seperti awal meskipun pernah direhab pada tahun 1991-1992 yang ketika itu peresmian rehab dilakukan Sri Paduka Paku Alam VIII. Wasiludin menyebut, beberapa bagian masjid juga masih asli, antara lain dinding utama yang tersusun dari batu hitam, empat tiang beserta susun joglo, mimbar, dan tempat imam.

“Ini semua masih asli, soko (tiang) empat, susun joglo, mimbar, pengimaman, dinding utama sebelah mimbar masih asli (bagian dalamnya –red) berupa susunan batu hitam, bukan batu bata,” imbuh Wasiludin sembari menunjukkan bagian dinding tersebut.


Panuju Triangga

2 Komentar

  1. 993329 614387Outstanding post, I believe weblog owners need to larn a whole lot from this weblog its truly user genial . 790158

  2. 465081 548703Wonderful web site. A lot of useful information here. 640875

Tinggalkan Balasan